Beranda > Cinta, Diary, Kata Bijak, Kehidupan, Keluarga, Opini, Tips > Bagi Calon Suami dan Calon Ayah

Bagi Calon Suami dan Calon Ayah

Tak terasa Sudah delapan bulan aku menyandang status sebagai suami, dan sebentar lagi status barupun segera bersanding, yaitu Ayah. Tak terasa olehku jika jam kehidupan ini begitu kencang berputar, sampai-sampai Aku lupa jika sebentar lagi rumahku akan ramai dengan tangisan bayi kami. Nah dalah tulisan singkat ini, saya mau berbagi cerita mengenai keluh kesah bagi calon suami atau suami baru yang sekaligus juga sebagai calon Ayah.

Sah Sebagai Suami Istri

Setahun lebih kami mempersiapakan rencana pernikahan kami, mulai dari pakaian, tempat, undangan, dan lain sebagainya. Selain persiapan materi tersebut kami juga terus bergumul dengan gejolak mental emosional yang terjadi di antara kami. Semakin mendekati hari H semakin kami diliputi rasa tidak tenang, was-was, kawatiran yang akhirnya berujung pada cek-cok kecil-kecilan. Akhirnya kami sadari bahwa semua pasangan yang hendak menikah pasti sering cek-cok. Bahkan malam H-1 pikiranku masih kacau, mikirin itu-mikirin ini, masih ada yang kurang ga ya? kira-kira dimana lagi yang belum beres? Dan lain sebagainya.

Semua keletihan itu akhirnya terbayar lunas pada hari H pernikahan kami. Ketika Pendeta mengucapkan:  “Apa yang sudah disatukan oleh Allah tidak boleh diceraikan oleh manusia (Matius 19:6)” sebagai pertanda bahwa pernikahan kami sah di mata Tuhan. Rasanya seperti bisul pecah saja, lega sekali, selesai sudah upaya yang telah kupersiapkan selama ini.

Kepada rekan-rekan yang hendak menikah, jangan kawatir, ini semua normal terjadi pada siapa saja. Saran saya tetaplah “kepala dingin” menyelesaikan setiap tahapan persiapan yang ada.

Bulan Madu

Setelah acara pernikahan biasanya bagi pasangan yang berkantong tebal pasti melanjutkan kemesraan mereka berduaan saja, atau yang biasanya kita kenal dengan istilah bulan madu. Biasanya pasangan baru bepergiaan ke suatu tempat dan menghabiskan waktu berduaan saja. Bagi yang berkantong seadanya pilihan ini sepertinya sulit untuk dilaksanakan, karena membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Jangan sampai hanya karena ingin berbulan madu, keesokan harinya tidak ada lagi uang makan untuk sebulan ke depan.

Kami tidak melakukan bulan madu secara khusus dengan bepergian ke suatu tempat. Bukan karena tidak ada uang, tetapi karena tuntutan pekerjaan yang mengharuskan saya pulang ke Jakarta keesokan harinya karena harus masuk kantor. Namun meskipun demikian kami bisa membuat bulan madu kami sendiri. Kebetulan rumah sudah kami persiapkan untuk tempat tinggal setelah menikah. Nah di rumah inilah kami habiskan berduaan bersama, bercanda-tawa, bercerita, dan tentunya ber……… (sensor).

Pesan saya bagi para Lelaki: Pikirkan matang-matang jika hendak berbulan madu, karena persiapan materinya tidak sedikit. Tanpa bulan madupun kita bisa membuat bulan madu kita sendiri, tentunya dengan konsep dan modifikasi kita sendiri. Tidak kalah seru kok, malah lebih menarik.

Kalau sedari awal memang hanya memiliki dana sedikit, jangan dipaksakan untuk berbulan madu. Jika dari awal sudah direncanakan tidak ingin berbulan madu maka lebih baik dikomunikasikan kepada pasangan Anda. Namun jika pasangan Anda tetap ngotot bepergian untuk berbulan Madu, maka sebaiknya Anda pikirkan ulang meminang dia sebagai istri Anda. Loh kok…

Kami sudah berencana akan berbulan madu suatu saat nanti, setelah si kecil dilahirkan. Hitung-hitung melunasi hutang bulan madu yang lalu.

Tiga Bulan Pertama Serasa Dunia Milik Berdua

Dunia memang serasa milik berdua, itu juga yang kualamai di tiga bulan pertama pernikahan kami. Seperti lagu saja: mau ngapainpun selalu ingat dia. Selalu berdua deh pokoknya. Sebentar-sebentar diperhatikan: sudah makan belum, lagi apa di kantor, dll. Jalan keluar selalu bergandengan tangan, tanpa sungkan kemesraan terumbar dengan sendirinya. Pokoknya Dunia milik berdua deh, yang lain ngontrak.

Memang bagi saya pribadi ada sedikit penyesuaian, dari yang sebelumnya pria mandiri sekarang selalu didampingi, dari sebelumnya pria pengelana, sekarang sudah tinggal menetap disisinya, tidak bisa mengambil keputusan sendiri lagi karena harus didiskusikan berdua, memberi informasi jika ada hal apapun, dll. Sedikit susah memang pada awalnya penyesuaian ini, namun sebesar apapun kesusahan itu tidak bisa mengalahkan rasa kasih sayang diantara kami.

Pada masa ini wanita biasanya di atas angin, artinya dia senang sekali mendapkan kehangatan ini, sehingga terkadang perhatiaannya over. Bagi pria yang sebelumnya mandiri seperti saya, pada awalnya merasa sedikit risih. Namun jangan kawatir itu hal yang wajar bagi pasangan baru. Perlahan-demi perlahan semua pasti akan berjalan normal lagi.

Istri Mulai mengandung

Ketika kabar sukacita itu datang, senangnya bukan main. Tuhan itu sungguh baik, langsung Dia berikan kepada kami seorang anak. Hari H pernikahan kami memang bertepatan dengan masa subur istri, jadi tiga minggu berselang Istri langsung bisa membertahukan kabar baik itu.

Sebentar lagi aku akan menjadi Ayah, itulah pikiran yang langsung terlintas di benakku. Pun demikian dengan istriku, dia akan menjadi seorang ibu. Pada masa ini istri membutuhkan perhatian lebih, kebutuhan itu bukanlah dibuat-buat, itu adalah kebutuhan alami ibu mengandung. Sama seperti yang banyak dikatakan banyak orang dan buku-buku panduan kehamilan.

Disinilah dituntut kesabaran laki-laki. Terkadang permintaan istri memang tidak masuk akal, seperti: Belikan martabak di jam 12 malam, pergi ke kebun binatang di jam 2 pagi, pulang kampung, belikan ini-itu, dan lain sebagainya. Secara akal sehat memang sulit untuk dipenuhi, apalagi dibumbui nasihat orang tua kalau istri ngidam harus dipenuhi, kalau tidak maka anaknya pasti ngences. Tidak salah memang mengikuti nasehat orang tua, tapi lihat juga situasi kondisi. Disinilah diperlukan hikmat dan bijaksana bagi seorang pria. Bagaimana menjelaskan kepada istri dan bagaimana memenuhi permintaan istri.

Pada intinya jangan sampai membuat istri menjadi emosional, depresi, dlsb. Jaga agar kondisi istri tetap ok. Terkadang memang pekerjaan ini sungguh sangat melelahkan, apalagi bagi pria yang ”laki-laki” banget. Hampir bisa dipastikan pada perioede ini istri bisa memegang kendali suami. Tapi jangan berpikir macam-macam dulu, periode ini memang miliknya istri. Jangan sampai kita melakukan hal ceroboh hingga berdampak pada bayi yang dikandung. Ingat lo, banyak pasangan yang belum dikasi momongan, oleh karena itu, jaga sebisa mungkin agar istri dan bayi yang dikandung selalu ok.

Setelah Tiga bulan

Banyak orang berkata bahwa nikmatnya menikah itu hanya tiga bulan saja. Setelah itu ketahuan deh belangnya siapa dia sebenarnya, ketahuan deh topengnya, dlsb. Yang tadinya berbicara lembut, kini membentak-bentak. Yang tadinya melayani setulus hati, kini ada embel-embel tertentu, Yang tadinya riak-riak kecil, kini sudah menjadi percekcokan besar, Pokoknya ketahuan deh siapa dia sebenarnya.

Ada benarnya memang pernyataan itu. Hal ini bisa terjadi karena Anda belum mengenal betul pasangan Anda sebelum menikah. Saran saya, jika Anda belum menikah, teliti sekali lagi pasangan Anda dengan benar sebelum Anda benar-benar menikahinya.

Bagi kami, untungnya ini tidak begitu besar dampaknya, memang ada penyesuaian-penyesuaian kecil, namun kami berdua sepakat kalau masalah-masalah yang terjadi itu tidak dapat melampaui rasa cinta yang terjalin diantara kami.  Empat tahun kami bersahabat sebelum kami menjalin hubungan pacaran, selanjutnya tiga tahun pula kami lalui masa pacaran hingga kami putuskan menikah. Waktu yang panjang itu kami rasa sudah cukup untuk mengenal dia dengan dekat.

Mudah-mudahan sampai saat ini kami masih bisa terus berkasih mesra (kami menyebutnya dengan istilah “pacaran lagi”).  Saya hanya bisa berbagi kepada pembaca bahwa kuncinya adalah keterbukaan dan saling percaya satu-sama lain. Itu sudah lebih dari cukup daripada harus membuat peraturan-peraturan.

Bagi Anda para pria, perlakukanlah pasangan Anda sebagai seorang putri, maka pasangan Anda akan memperlakukan Anda sebagai seorang pangeran.

Hamil Tua

Melewati usia kandungan lima bulan bagi sebagian orang adalah masa tenang, artinya segala kerentanan akibat kehamilan mudah-mudahan sudah terlewati, seperti morning sick sudah tidak ada lagi, rahim sudah kuat, fisik istri sudah lebih kuat, dlsb. Namun Anda tidak bisa yakin begitu saja, bagi Anda para pria, Anda harus tetap waspada terhadap segala kemungkinan yang ada. Oleh karena itu jangan pernah perhatian Anda kendur sedikitpun terhadap istri.

Ingat, masanya tinggal sedikit lagi, jangan karena kecerobohan Anda sedikit saja, penyesalan Anda akan berlangsung seumur hidup. Sabar dan tekunlah menanti waktu persalinan itu tiba. Sebisa mungkin penuhi semua kebutuhan istri, jika Anda tidak mampu, komunikasikan dengan baik kepadanya. Saya yakin, sesusah apapun itu, jika dikomunikasikan dengan baik maka istri pasti mengerti.

Sampai disini dulu sharing dari saya ini. Karena saya masih mengalami tahapan ini. Tahap selanjutnya: masa persalinan, jadi the real Ayah, mengurus bayi, dlsb, mudah-mudahan akan saya sharingkan lagi jika saya sudah melaluinya.

Akhirnya saya butuh doa dan dukungan dari para pembaca, mudah-mudahan persalinan istri saya nanti berjalan dengan baik. Ibu dan bayi sehat.

  1. Manroeng
    November 15, 2010 pukul 8:28 am

    Doaku selalu besertamu Kedan, hehehe

  2. Agustus 7, 2012 pukul 7:18 pm

    Saya setuju ito: keterbukaan (jujur) dan saling percaya satu sama lain. Ditambah dgn komunikasi yg baik tentunya ya🙂 Horas dan salam kenal, ito.

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: