Beranda > Diary, Keluarga > Ia Terlahir Dengan Cesar

Ia Terlahir Dengan Cesar

Sabtu, 20 November 2010, tak ubahnya seperti hari biasa lainnya, tidak ada yang istimewa yang kami alami hingga larut malam, atau bahkan rencana besar yang hendak kami kerjakan hari itu. Seperti malam minggu biasanya, kami memang memiliki kebiasaan jalan keluar untuk sekedar makan malam atau berkeliling-keliling kota hanya untuk melihat kemilau lampu kota, kami sepakat menyebut hal itu dengan istilah “pacaran lagi”.

Sekitar jam sembilan lebih tiga puluh menit kami tiba di rumah, kami bahkan masih menyempatkan diri ngobrol berdua saja di tiga puluh menit selanjutnya hingga akhirnya istriku ketiduran di kasur. Sementara itu aku masih sibuk dengan sebuah buku yang belum selesai kubaca dan sesekali mengutak-atik laptopku di meja kerjaku yang juga berada di ruang tidur untuk sekedar menanti mata yang belum mau terlelap ini. Baru sebentar saja aku pergi ke toilet, tiba-tiba terdengar teriakan kencang dari istriku: “abang..!” kupikir hanya mimpi saja atau kecariaan karena aku sedang tidak di kamar, tapi ketika teriakan itu berulang kali diucapakkan istriku, tanpa pikir panjang segera kuhampiri dia. Kulihat air seperti ngompol sudah membasuhi kasur kami. KETUBAN PECAH, dugaanku langsung tertuju kesana. Setelah kutelepon beberapa keluarga dekat untuk meminta dukungan doa, akupun langsung menggendong istriku ke mobil dan segera membawanya ke rumah sakit.

Spontan saat itu aku langsung teringat ucapan keponakanku yang masih berusia 4 tahun yang bertelepon pagi itu melalui mamakku: “Sudah lahir dedekku itu kan pung, telepon lah dulu pung”, Aku bahkan ingat dengan ucapanku sendiri yang kuucapakan sehari sebelumnya: “Besok lahirnya dia itu”. Ucapan itu terucap dengan sendirinya karena lelahnya meladeni kemauan ngidam istriku dan kemauan-kemauannya lainnya. Ternyata kedua pertanda itu benar, pikirku.

Menanti Saatnya Tiba.

Disepanjang jalan menuju Rumah sakit kulihat air ketuban istriku terus mengucur, pikirku mungkin ia terlalu capek kuajak berjalan-jalan sepanjang hari ini sampai bisa begini. Namun apapun itu kondisinya aku terus berupaya meyakinkan istriku untuk tetap tenang, meskipun aku sendiri sebenarnya sangat kalut. Tiba di rumah sakit sekitar jam 11, kami langsung ditangani bidan yang jaga saat itu.

Tak tega aku melihat wajah istriku yang terus merengkuh kesakitan, beberapa kali bidan memasang alat mengecek tingkat kontraksi, dan beberapa kali pula sang bidan mengecek bukaan rahim istriku, namun tetap saja hasilnya masih di bukaan pertama, sementara istriku sudah lelah menahan kontraksi. Dokter kandungan istriku berjaga dirumahnya untuk sesekali meladeni complain kami dari Rumah sakit. Hingga jam 5 pagi tidak ada perkembangan berarti, istriku beberapa kali mengatakan sudah tidak kuat lagi. Memang belum waktunya melahirkan dengan normal ini, pikirku. Sungguh tak tega aku melihatnya, seketika aku langsung mengambil kesimpulan bahwa ini tidak mungkin lagi ditunggu untuk bersalin normal, istriku sudah tidak kuat, dan lagi air ketuban keburu habis.

Operasi cesar (atau dalam bahasa inggrisnya caesarean section) saja, telepon dokternya untuk operasi sekarang juga, pintaku pada sang bidan. Jam operasipun dijadwalkan pukul enam pagi. Doa, tangis dan beberapa kali air mata menetes dengan sendirinya, kulihat pula mertuaku yang juga menunggu kawatir sekali berharap operasinya nanti berjalan lancar.

Minggu, 21 November 2010, pukul 06.25 anak kami hadir ke dunia ini. Sungguh polos dan damai anak ini dalam tangisannya. Rasa kalut yang menyelimuti sebelumnya sirnah sudah ketika melihatnya. Kulihat jari-jemarinya lengkap semua, seluruh panca indra dan bentuk tubuhnya juga normal. Puji Tuhan.

Andrew Timothy Simbolon, begitulah rencana kami berdua menamainya, namun Bapakku ternyata sudah menyiapkan nama lain: Jimmy Christian Simbolon. Alhasil demi kebaikan bersama kami padukan kedua nama itu menjadi Andrew Christian Timothy Simbolon. Kini nama itu sudah tidak bisa diganggu gugat lagi karena sudah ada akta lahir yang menyebutnya demikian.

Menjawab Cibiran Miring

Beberapa waktu setelah kelahiran putra pertama kami, tentunya banyak ucapan selamat yang kami dapat, baik melalaui sms, telepon , atau kunjungan langsung. Namun selain itu ada beberapa kerabat yang memberikan cibiran miring karena menurutnya putra kami lahir belum waktunya: “Kamu berhubungan dulu ya ri sebelum menikah”. Sakit sekali hati ini mendengar cibiran-cibiran itu. Aku lebih tepat menyebutnya sebagai fitnah karena telah membunuh karakter kami berdua sebagai pasangan suami istri yang menikah suci di gereja. Dan yang lebih menyakitkan lagi cibiran-cibiran itu diucapkan oleh kerabat dan kolega dekat kami sendiri.

Kami menikah tanggal 6 Maret 2010. Seminggu sebelumnya tanggal 26 Februari istriku mendapakan menstruasinya. Jadi pas sekali ketika hari H pernikahan kami istriku sedang berada di masa suburnya. Dokter kandungan istriku memang memprediksi bahwa istriku akan melahirkan sekitar tanggal 3 Desember 2010. Jadi memang kelahiran putra kami lebih cepat 2 minggu dari prediksi dokter. Kalau saja istriku tidak mengalami pecah ketuban mungkin saja ia melahirkan sesuai tanggal predikisi dokter.

Bukti nyata ini sudah cukup menjelaskan bahwa memang Tuhan berkehendak demikian. Adalah hal yang tidak masuk akal bagi kami melakukan hubungan sebelum pernikahan karena kami sama-sama dipertemukan di lingkungan Persekutuan Mahasiswa Kristen dan sama-sama dibina disana. Nama baik kami berdua jauh lebih penting dari pada jika kami melakukan hubungan di luar nikah yang nikmatnya cuma sesaat itu.

Istriku dengan simpel memberikan jawaban: “sudahlah bang, ngapain dipikirkan ucapan orang-orang yang tak tahu diri itu, wong memang kita tidak melakukan apa-apa kok. Jelas-jelas aku datang bulan seminggu sebelum kita menikah. Gak mungkin juga kan kita melakukannya selagi aku masih belum bersih” Ucapan istriku ini memang sangat membuatku tenang, meskipun tetap saja hingga tulisan ini dibuat masih ada temanku mengucapkan fitnah itu. Hanya Tuhan saja yang tahu, Dia yang akan membalas perbuatan mereka.

  1. vivi
    Januari 11, 2011 pukul 8:28 am

    Biasalah ada saja manusia yang seperti itu To, yang penting tunjukkan saja diri kita siapa dan siapa yg menggerakkan hidup kita ini😉

    • Harry Simbolon
      Januari 11, 2011 pukul 10:20 am

      Makasih ito, Nice word

  2. venny
    Januari 12, 2011 pukul 12:22 am

    Satu hal yang perlu kita ingat sayang…. Mata TUHAN tidak pernah terpejam SATU kalipun !!! jadi, biarlah TUHAN yang TAHU SEGALANYA. I love you.

  3. jeany simarmata
    Januari 15, 2011 pukul 11:59 am

    sebenarnya koment ini da telad karna anak ito sudah lahir setahun yg lalu,
    aku hanya mau ucapkan selamat yahh untuk kelahiran anakpertamanya ito.
    apapun yg orang lain katakan ga usa dipikirin, toh yg tau diri kita yaitu TUHAN sang pencipta dan juga diri kita sendiri. tetap semangat dan tetaplah berkarya,..
    GBU

    • Harry Simbolon
      Januari 16, 2011 pukul 6:00 pm

      makasih ya to

  4. Chris Luis Manurung
    Januari 19, 2011 pukul 9:02 pm

    Songon na Mantabh isi Blog Kedan awak Ini Bah…
    Tapi Ada Cacad sedikit di akhir cerita..

    Selow kau kawan… gak perlu terluka Hatimu karena Ucapan itu, Sesungguhnya si”Begu” yang mengatakan itu adalah orang yang tidak mengenalmu.

    Tetap Semangat kedan…!!
    GBU

    • Harry Simbolon
      Januari 20, 2011 pukul 9:22 am

      Mauliate kedan. dang ro ho tu jabu haroa mamereng beremu?

  5. Arifin Tobing
    Juni 17, 2011 pukul 9:56 pm

    mantraaaapp kali lae blog-nya.. apa lagi yang satu ini.. beginilah nasib kita sebagai laki-laki baik2.. selalu ajah ada ujian.. iyah kan luis..?? laki-laki baik2 kita kan..?? *maksa*

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: