Beranda > Batak, Budaya, Mimpi, Opini > Membangun Tapanuli dari Sektor Pendidikan

Membangun Tapanuli dari Sektor Pendidikan

Tak disangkal lagi bahwa Tapanuli adalah pemasok sarjana-sarjana cerdas di negeri ini. Dalam sebuah sumber pernah disebutkan bahwa Tapanuli Utara (ketika dulu belum dimekarkan) adalah kabupaten dengan rasio sarjana tertinggi di Indonesia dibanding dengan jumlah penduduknya. Sungguh luar biasa kan? Hal ini bisa terjadi karena memang falsafah masyarakat Batak mengatakan demikian: “anakkonki do hamoraon di au” (anakku adalah kekayaanku). Karena falsafah itulah makanya orangtua Batak bersusah payah menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya agar keluarga mereka bisa lebih berharga lagi di kemudian hari. Apapun rela dilakukan meski harus mengorbankan dirinya sendiri.

Kecerdasan yang dihasilkan itu sangat kontras dengan konsep kecerdasan di kota-kota besar. Di Jabotabek saja saat ini banyak bermunculan sekolah-sekolah berkurikulum internasional, yang menjanjikan otomatis diterima di universitas luar negeri, pasti diterima di PTN, gedung supermewah, fasilitas serba lengkap, dll. Uang sekolahnya saja bahkan bisa melebihi gaji PNS golongan 3A per bulannya. Bandingkan dengan SMA Negeri di Tapanuli sana yang fasilitasnya memang ala kadarnya saja tapi bisa memasok banyak siswanya ke PTN di Pulau Jawa bahkan ke luar negeri. Seorang teman asal Humbang baru pertama kali memegang komputer ketika duduk di universitas, seorang teman lain dari Tobasa baru pertama kali melihat Mikroskop setelah melakukan penelitian di kampusnya, seorang mahasiswa lainnya dari Samosir baru pertama kali membaca teksbook asli di perpustakaan kampusnya. Alat peraga itu atau bahkan fasilitas lainnya memang masih sangat minim di beberapa sekolah di Tapanuli. Filosofi budaya Batak itulah yang membuat masyarakat Tapanuli Cerdas. Tapi hal ini bukan berarti fasilitas pendidikan dan alat-alat peraga di sekolah-sekolah yang ada di Tapanuli tidak perlu dipikirkan.

Pendidikan Berbasis Sekolah Unggulan

Adalah TB Silalahi dan Faisal Tanjung yang melakukan terobosan itu. Kedua Purnawirawan Jendral itulah yang membuka mata masyarakat Tapanuli bahwa untuk menghasilkan orang cerdas harus dipersiapkan dengan baik. SMA Plus Soposurung Balige dan SMA Plus Matauli Sibolga adalah dua sekolah yang didirikan mereka dengan konsep pendidikan modern. Kedua sekolah itu memiliki teknik seleksi siswa sendiri, mengimpor guru-guru dari pulau jawa dan mempersiapkan siswanya untuk memasuki kampus-kampus terkenal. Bagi siswa yang memiliki kecerdasan tinggi akan dibebaskan biaya pendidikannya termasuk asrama selama masa pendidikan. Tentu ini menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat Tapanuli dan sekitarnya. Dan model pendidikan ini ternyata berhasil, hampir seluruh siswanya diterima di PTN dan mayoritas di top five university di Pulau Jawa. Penulis dulu diterima di SMA Plus Mataulis Sibolga ini, namun karena alasan keluarga akhirnya memilih bersekolah di tempat lain.

Kini di Tapanuli juga sudah ada perguruan tinggi komputer terkemuka bernama Politeknik Informatika Del yang terletak di Lagu Boti. Adalah Jenderal (Purn) Luhut B Panjaitan MPA yang mencetuskan ide pendirian kampus ini. Mahasiswa politeknik ini boleh jadi mendapatkan privilese untuk belajar di kampus seluas tujuh hektar yang tenang di tepi Danau Toba yang permai. Direktur Politeknik ini didatangkan khusus dari ITB untuk bisa mentransformasi masyarakat Toba dengan pendidikan modern.

Virus sekolah plus ini cukup mempengaruhi Kabupaten dan Provinsi lainnya. Di Sumatera Utara saja hampir di semua kabupaten ditentukan sebuah SMA sebagai sekolah binaan pemerintah daerah, meski dengan konsep pendidkan yang sangat jauh berbeda dengan kedua SMA plus tersebut. Itupun kita sudah sangat bersyukur karena Pemerintah Daerah sudah memperhatikan mutu pendidikan di daerahnya.

Mimpi Putra Keturunan Tapanuli

Sebagai Putra keturunan Tapanuli, meskipun sudah lahir dan besar di luar Tapanuli, Saya masih punya mimpi kelak Tapanuli menjadi kiblat pendidikan Indonesia. Masyarakat Tapanuli yang memang terlahirkan cerdas seharusnya menjadi kekuatan untuk meraih mimpi itu. Apalagi jika Tapanuli menjadi Provinsi sendiri, saya kira ini patut dipikirikan secara serius.

Disetiap kabupaten berdiri sekolah unggulan gratis yang terintegrasi, ada pula universitas terkemuka dan institut teknologi mentereng yang siap membentuk masyarakat Tapanuli menjadi teknokrat dan pemikir handal, di pinggir Danau Toba berdiri institut pertanian sekaliber atau melebihi IPB karena memang masyarakat Tapanuli akrab dengan bercocok tanam. Perguruan tinggi-Perguruan tinggi tersebut suatu kali akan menghasilan pemenang nobel atau bahkan menduduki kursi pemimpin negara.

Bisa kita bayangkan efek dominonya bila mimpi ini terealisasi, tentu kesejahteraan rakyat akan terimbas fantastis, pembangunan gedung dan jalan akan tersebar merata, tenaga kerja akan terserap, wisatawan akan banyak berdatangan, danau toba akan kembali ramai. Hambatan kemiskinan yang selama ini menjadi momok pembangunan Tapanuli saya rasa akan teratasi dengan sindirinya.

Kita semua mengetahui bahwa banyak dari sarjana-sarjana yang telah berhasil itu jarang yang kembali membangun kampung halamannya. “Mereka memang sukses di perantauan, tapi  kalau mereka kerja disini mana lah mungkin mereka begitu”, setidaknya begitulah yang diperbincangkan banyak masyarakat di Tapanuli. Kalau orang bilang “jago kandang”, kalau orang Tapanuli bilang  “jago tandang”. Hal ini kemungkinan besar akan menjadi sekedar sebuah mitos bila Tapanuli telah maju. Akibat pemekaran saja banyak perantau yang pulang kampung, bagaimana bila Tapanuli menjadi provinsi maju, tentulah Tapanuli menjadi primadona dalam menghasilkan rupiah.

Tantangan dan Hambatan

“Ah kau ini pun lae, tinggi-tinggi kali mimpimu itu, manalah mungkin itu tercapai, sudah tenggen (mabuk) kali kau lae”.  Mungkin itulah respon masyarakat Tapanuli bila mimpi ini kucetuskan di lapo (warung minum batak). Memang mimpi ini sangat fantastis, tapi bukan tidak mungkin untuk dicapai kan?

Darimana dananya, ini juga akan menjadi alasan klasik. Bila ada goodwill dari para tokoh dan pemerintah saya yakin masalah ini akan terpecahkan dengan sendirinya. Ingatkah kita bahwa Universitas Brawijaya, Universitas Jendral Sudirman, IPB dan Universitas Sebelas Maret berada di ibukota kabupaten, bukan di Ibukota provinsi. Setiap tahun miliaran rupiah APBN mengalir kesana, mereka bisa, kenapa kita tidak? Atau secara sederhananya saja, begitu banyak perantau Tapanuli yang sekarang sukses di perantauan, jika mereka berkontribusi 1% saja dari pendapatannya perbulan saya yakin bisa mengatasi masalah ini.

Setiap marga Batak adalah Raja, maka pantaslah egoisnya yang dikedepankankan, baik dalam pertemuan adat maupun dalam keseharian. Bagi sebagian orang ini menjadi tantangan besar, belum pun jadi suatu rencana, sudah berhenti dulu karena tidak pernah selesai didiskusikan. Namun menurutku ini terjadi karena wawasan yang belum terbuka saja. Masyarakat Batak di Jakarta sudah jauh lebih moderat dalam berkata, bepikir dan bertindak. Justru membenahi wawasan itulah misi utama dari mimpi ini.

Saya yakin bukan 3 orang jendral itu saja yg sukses dari Tapanuli yang perduli dengan pendidikan, ada berpuluh-puluh jendral lainnya, ada ratusan atau bahkan ribuan pengusaha lainnya yang sukses di perantauan sana yang masa kecilnya dulu pernah “marmahan” dan “marsoban”, yang dulu “mardalan pat” berpuluh-puluh kilometer menuju tempat sekolahannya,  “maronan” seminggu sekali hanya sekedar ingin merasakan “mi gomak” dan yang dulu berjuang mati-matian menyelesaikan sekolahnya karena keterbatasan dana. Tinggal menunggu kepedulian saja menyentuh hati mereka untuk mereka peduli pada kampung halaman.

Semoga bukan sekedar mimpi.

  1. Agustus 24, 2011 pukul 5:46 pm

    sungguh luar biasa,

  2. Mei 7, 2012 pukul 12:36 pm

    i wanna do something for Tapanuli

  3. Henry vm nababan
    Juli 14, 2013 pukul 2:42 pm

    Tapagogo di sude bidang…..ida hamu jepang..dohot amerika asa malo malo anak batak anak ni raja

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: