Beranda > Bisnis Manajemen, motivasi > Narsisme dan Pengembangan Karir

Narsisme dan Pengembangan Karir

Trend narsis sudah lama membumi di tengah-tengah lingkungan kita, meski istilahnya baru terkenal di Indonesia  dalam satu dekade terakhir ini, namun pola dan perilakunya sebenarnya sudah ada sejak dulu kala. Narsisme (dari bahasa Belanda) diartikan sebagai perasaan cinta terhadap diri sendiri yang berlebihan. Orang yang mengalami gejala ini disebut narsisis (narcissist). Tengok saja contohnya di jejaring sosial, hampir semua pengguna jejaring sosial seperti facebook dan tweeter berlomba-lomba memamerkan dirinya, apakah itu dengan memamerkan foto-foto dengan segala pose, memamerkan aktivitas yang dilakukan dengan posting status dan komentar-komentar di wall atau tweet yang cenderung pamer diri.

Kecenderungan narsis ini sejalan dengan teori Maslow akan kebutuhan manusia atas aktualisasi diri, manusia cenderung ingin tampil di depan, menjadi pusat perhatian dan menjadi fokus pembicaraan. Itu jugalah yang dianggap ilmu marketing sebagai opportunity, membuat produk terdeferensiasi dan tersegmentasi berdasakan kelas pelanggannya. Teori itu terbukti berhasil, lihat saja kartu kredit Platinum menjadi incaran para nasabah bank, mobil-mobil mewah laku keras meski produksinya limited edition, properti high class hanya dalam hitungan hari saja pasca launching langsung sold, sekolah swasta berstandar internasional menjadi tujuan orangtua menyekolahkan anak-anaknya dan masih banyak contoh lainnya.

Dalam ilmu psikologi, orang yang cenderung narsis ini tergolong pada tipe karakter extrovert, bisa sanguine atau choleric. Tipe karakter seperti ini banyak menjadi orang yang digemari masyarakat karena kemampuan mereka membuat orang lain terpukau padanya. Kemampaun alami inilah yang menjadi nilai lebih bagi orang tersebut dalam pilihan hidup yang diambilnya, misalnya dalam pergaulan sehari-hari, pekerjaan, keluarga, dll.

Orang yang memiliki kemampuan mempengaruhi lingkungannya ini dalam teori perilaku organsiasi akan cenderung menjadi pemimpin bila dibekali dengan kemampuan manajemen yang baik. Itulah mengapa dalam proses recruitment karyawan, pewawancara lebih melihat tingkat ke”PeDe-an” si karyawan tersebut, seberapa mampukah dia menonjolkan dirinya sendiri, karena itulah sebenarnya yg diharapkan perusahaan setelah ia bekerja diperusahaan tersebut nanti untuk dapat menjual kelebihan perusahaan dari produk atau jasa yang dihasilkannya.

Bagaiamana dengan orang yang cenderung diam, apakah dia tidak akan bisa maju? Saya tidak mengatakan demikian, tetapi menurut saya bagaimana mungkin orang yang pendiam bisa tampil di depan jika ia tidak bisa menuangkan ide dan pemikirannya dalam ucapan. Tapi itu bukan berarti orang pendiam tidak bisa maju, karena tidak ada satupun di dunia ini yang tidak bisa dipelajari. Hal ini sama seperti psikotest yang kata orang banyak tidak bisa dipelajari karena apa adanya akan keluar dari orang yang bersangkutan, namun setelah saya buktikan sendiri, saya bisa mempelajarinya.

Merubah karakterpun demikian, meski tingkat keberhasilannya mungkin kecil, tetapi tetap ada peluang untuk merubahnya. Dalam suatu penelitian psikologi, pernah dikatakan bahwa hanya 2% saja orang yang mampu merubah karakternya. Penelitian ini mungkin dilakukan secara general, bila dilakukan khusus dengan sampel sekelompok orang yang memiliki niat dan kemauan keras untuk berubah, saya pikir persentase ini bisa semakin besar lagi.

Dalam suatu perkuliahan di kelas sarjana dulu, dosen saya pernah memberikan motivasi berikut: “Saya berikan persentase nilai 50% dari keaktifan di kelas adalah supaya kalian terbiasa mengungkapkan ide dan gagasan kalian, karena kelak di dunia kerjapun hal itu sangat dituntut demi kemajuan karir kalian”. Setelah berada dalam dunia kerja baru saya menyadari bahwa ucapan dosen saya itu benar, rekan-rekan saya yang memang aktif baik di milis internal maupun dalam rapat-rapat cenderung dikenal oleh bos sehingga promosipun cepat dialami mereka.

Bila dikaitkan dengan agency theory, pola yang terbentuk adalah agen (karyawan) akan berusaha melakukan segala cara untuk membuat principal (bos) senang dan mempromosikannya pada karir yang lebih tinggi lagi, termasuk didalamnya menjilat dan cari perhatian. Menurut saya, hal itu memang masuk dalam kriteria narsisme, namun lebih ke arah negative. Hal ini memang terjadi di hampir semua organisasi karena ledakan kemauan aktualisasi diri seperti yang dikatakan Maslow tersebut. Bagi pimpinan Perusahaan sebaiknya harus lebih jeli lagi membedakan mana narsisme karyawan yang benar-benar menjual kemampuan dirinya dan mana yang memang hanya mengejar kemauannya pribadi sesaatnya saja.

  1. Maret 30, 2011 pukul 4:44 pm

    waaaaaaaaahhhh ditempat kerja menone nich byk bgt para penjilat2 n sukanya saling menjatuhkan sesama teman asal dia untung dek depan bozzz

    salam persahabatan selalu dr menone

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: