Beranda > motivasi, Opini, Pendidikan > Betapa Berartinya Beasiswa Itu

Betapa Berartinya Beasiswa Itu

Ketika namaku terpampang di koran sebagi pemenang Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri (UMPTN), orangtuaku langsung memutar otaknya mencari sumber pendanaan untuk membayar biaya pendaftaran dan biaya tetek bengek lainnya di awal perkuliahan yang katanya jumlahnya lumayan besar itu. Meskipun akhirnya harus berhutang pada orang lain, usaha orangtuaku itu sungguh tak terlupakan bagiku. Belum lagi orangtuaku juga harus membiayai dua kakakku dan seorang abangku yang juga masih kuliah, bersyukur kakak sulungku yang sudah lulus dan bisa sedikit membantu.

Hidup ini benar-benar sulit, itulah mungkin yang dirasakan orangtuaku saat itu. Dengan hanya penghasilan dari Bapakku sebagai operator pabrik tentulah tidak cukup menyekolahkan kami berlima hingga perguruan tinggi, itulah yang menyebabkan Mamakku mencari sumber pendanaan lainnya dengan berjualan sayuran di pasar pagi. Jika kuingat-ingat lagi masa-masa itu sungguh prihatin rasanya melihat bagaimana orangtuaku bersusah payah menyekolahkan kami semua.

Betapa bersyukurnya aku ketika minggu pertama merasakan perkuliahan dibangku kuliah langsung mendapat tawaran beasiswa. Beasiswa itu bernama Peningkatan Prestasi Akademik (PPA) dari Depdiknas. Syaratnya hanya bemodalkan Nilai Ebtanas Murni (NEM) SMA yang kemudian akan dirangking dan diambil yang paling tinggi. Bersyukurnya lagi NEMku tergolong tinggi saat itu hingga aku terpilih menjadi salah satu penerima beasiswa tersebut. Selanjutnya aku hanya harus mempertahankan prestasi akademikku jika ingin terus mendapatkan beasiswa ini hingga lulus.

Hanya 60 ribu sebulan memang nominal beasiswa yang kuterima itu, jumlah itulah yang terus kuterima hingga aku menyelesaikan Sarjanaku di semester ketujuh. Bagi sebagian orang mungkin kecil, namun bagiku itu sungguh berarti. Kuterima per enam bulanan aku bisa langsung membayar SPP semesteranku yang saat itu jumlahnya masih 385 ribu. Akupun juga bisa mengurangi beban orangtuaku dan aku bisa tenang menyelesaikan studiku.

Dari semester satu hingga lulus, SPPku dibiayai oleh beasiswa, jadi boleh dibilang beasiswalah yang memberiku sarjana ini.

Dengan beasiswa juga kakak sulungku bisa menggapai impiannya meraih pendidikan sampai tingkat doktoral (S3), demikian juga kakak nomor tigaku yang ditopang beasiwa selama meraih pendidikan sarjanannya.

Pengalaman pribadi yang kurasakan ini sungguh bisa menjadi inspirasi bagi banyak orang. Masih banyak pelajar lainnya yang memiliki kondisi ekonomi seperti aku dulu, atau bahkan lebih parah lagi. Bantuan beasiswa sekecil apapun pastilah sangat berarti bagi mereka.

Orangtuaku pernah berkata: “Hanya pendidikanlah yang mampu merubah nasib keluarga kita ini”. Pesan itulah yang kupegang hingga saat ini. Pesan itu juga berlaku universal bagi siapapun yang ingin merubah nasib keluarganya. Namun bagaimana mungkin menyekolahkan anak jika membayar SPP saja tidak mampu? Pertanyaan inilah yang perlu kita jawab bersama melalui kepedulian kita.

Memang pemerintah dan beberapa perusahaan besar telah banyak memberikan bantuan beasiswa bagi para pelajar, namun ternyata masih lebih banyak lagi rakyat indonesia yang membutuhkannya. Melalui tulisan ini saya menggugah hati para pembaca untuk peduli bagi kelangsungan masa depan bangsa melalui pendidikan. Sisihkan sedikit saja penghasilan untuk membantu mereka yang membutuhkan. Siapa yang sangka jika bantuan kelak mampu menghasilkan intelektual dan pemimpin bangsa ini kelak.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: