Beranda > Pendidikan > Metode Belajar Montessori Bikin Anak lebih Mandiri

Metode Belajar Montessori Bikin Anak lebih Mandiri

Dunia pendidikan yang semakin berkembang kini mempopulerkan metode lain yang disebut Metode Montessori. Pada dasarnya, sistem ini hampir serupa dengan sistem reguler, karena masih melibatkan peran murid dan guru.  Biasanya metode Montessori ini diterapkan pada pendidikan prasekolah sampai sekolah dasar, namun ada juga yang menggunakan sistem ini di sekolah menengah.

Metode Montessori ini diciptakan oleh Dr Maria Montessori, seorang pendidik dari Italia. Dr Maria Montessori mengembangkan metode ini sebagai hasil dari penelitiannya terhadap perkembangan intelektual anak yang mengalami keterbelakangan mental. Ciri dari metode ini adalah penekanan pada aktivitas pengarahan diri pada anak, dan pengamatan klinis dari guru yang berfungsi sebagai fasilitator atau pendamping.

Metode ini menekankan pentingnya penyesuaian dari lingkungan belajar anak dengan tingkat perkembangannya, dan peran aktivitas fisik dalam menyerap konsep akademis dan keterampilan praktik. Ciri lainnya adalah adanya penggunaan peralatan auto correction untuk membantu anak belajar dengan baik, dan mengerti benar atau salah terhadap perbuatan yang dilakukan, sehingga anak bisa mengoreksi dirinya sendiri. Anak menjadi lebih paham atas kesalahan yang dilakukan, tanpa perlu diberitahu oleh pendidiknya. Sekolah dengan metode ini juga tak mengenal adanya reward dan punishment (hadiah dan hAukuman).

Salah satu pendidikan pra sekolah yang menggunakan konsep Montessori adalah Twinkle Stars yang ada di kawasan Cilandak, Jakarta Selatan. Di Twinkle Stars, dalam satu kelas yang baru akan dimulai ini diisi oleh anak-anak berusia 3-6 tahun. Pencampuran anak-anak berbeda usia atau multi-age grouping ini bertujuan agar anak bisa bersosialisasi dengan teman-teman seumurannya, dan bisa menjadi “mentor” bagi anak-anak lain yang usianya lebih muda.

Di sekolah reguler, semua pelajaran yang diajarkan berdasarkan kurikulum, sehingga mau tak mau anak-anak “dipaksa” untuk mengerti semua hal yang diajarkan. Namun, di sekolah Montessori, anak-anak belajar melakukan sendiri kebiasaan-kebiasaan yang dilakukan sehari-hari, seperti merapikan tempat tidur, mencuci piring sehabis makan, dan lain-lainnya, sekaligus bermain dengan aneka permainan yang mendidik. Namun, semua pelajaran yang diajarkan ini memiliki artian dan tujuan pendidikan tertentu dan bisa dipilih anak sesuai dengan kegemarannya, sejauh sesuai dengan usianya.

Sistem Montessori mengenal lima area belajar utama yaitu, latihan kehidupan sehari-hari atau Exercise of Practical Life, pembelajaran melalui panca indra/sensorial, Bahasa/Language, Dunia Sekitar/Cultural, dan Matematika/Math.

Sumber KOMPAS

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: