Beranda > Diary > Menikmati Jalan Kalimalang Sepanjang Hari

Menikmati Jalan Kalimalang Sepanjang Hari

Kalimalang, sebutan untuk sungai yang melintasi Bekasi sampai Jakarta, disisinya terbentang jalan raya yang umumnya digunakan untuk transaportasi Jakarta ke Bekasi dan sebaliknya. Selain jalan Kalimalang sebenarnya masih ada jalan penghubung lainnya ke Jakarta yaitu via Kranji Pulo Gadung dan Duren Sawit Bintara, Namun Jalan Kalimalang ini relatif lebih ramai jika dibanding dengan jalan lainnya. Sungai Kalimalang menjadi sumber air minum warga Jakarta karena disana berdiri pabrik pengolahan air minum PAM Jaya yang dikelola oleh Aetra.

Setiap harinya aku berangkat jam setengah tujuh pagi menuju kantorku yang terletak di segitiga bisnis Jakarta. Jalan Kalimalang selalu menjadi pilihanku karena memang inilah jalan terdekat dari rumahku di Bekasi menuju kantorku. Menggunakan motor antikku yang sudah sangat berjasa bagiku sejak mahasiswa, aku selalu ditemani menyusuri setiap titik jalan Kalimalang ini.

Kalimalang selalu menjadi kenangan bagiku, karena setiap hari selalu saja ada hal baru, kadang membuatku tersenyum sendiri dengan hal-hal lucu yang terjadi di sepanjang jalan, kadang pula aku emosi karena liarnya jalan yang kulalui.

Hapir setiap hari selalu saja ada kecalakaan yang terjadi, apakah itu senggolan antara dua sepeda motor, motor yang menyerempet mobil, tabrakan, dan jatuh dengan sendirinya. Kadang jika sudah macet emosi membakar semua pengendara hingga terjadilah keributan antara sesama pengendara, melihat hal-hal itu terkadang aku senyum-senyum sendiri, betapa Jakarta ini sungguh membuat setiap orang individualis, pengen cepat, tanpa memikirkan perasaan orang lain.

Pernah suatu kali aku melihat seorang pengendara wanita terjatuh sampai berdarah-darah, pengendara yang pertama sekali melihatnya bukannya menolong, malah cuek bebek dan pergi begitu saja. Inilah contohnya bahwa Ibukota itu memang keras. Demikian juga ketika si korban tadi hendak dievakuasi, setiap mobil lewat yang distop tidak ada yang bersedia memberikan tumpangan karena tahu pasti mobilnya akan meninggalkan bercak darah. Alhasil ketika polisi datang baru si korban bisa diselamatkan.

Dilain sisi Kalimalang justru memberikan keceriaan bagiku, ketika kulihat sepasang pria dan wanita, entah itu sudah menikah atau masih pacaran, begitu mesranya meski jalan berdebu disertai terik yang mengengat. Mereka berpelukan, bercanda tawa dengan ceria dan terkadang tangan si cewek menjalar entah kemana-mana. Banyak pula kulihat pasangan yang bertengkar diatas motor, ada-ada saja ya.

Pengalaman yang tak kalah seru adalah ketika melihat beberapa pengendara motor ditilang oleh polisi dengan pelanggarannya masing-masing. Ada yang memberikan uang sogokan begitu nyatanya hingga dilihat oleh pengendara lainnya, ada yang memohon-mohon kepada polisi agar diijinkan melintas karena takut telat sampai kantor, ada pula yang harus mendorong motornya ke pos polisi terdekat. He..he.. tertawa sendiri aku mengenangnya lagi karena akupun pernah mengalaminya.

Kalimalang juga terkadang membuatku jengkel, sudah berapa kali ban motorku pecah disini, hal yang paling menjengkelkanku ialah takkala aku harus mendorong motorku ke tambal yang lumayan jauh jaraknya. Demikian juga ketika motorku habis bensin, seingatku disepanjang jalan Kalimalang hanya ada empat pom bensin, bayangkan bila mogok, seberapa jauh aku harus mendorongnya.

Di musim hujan Kalimalang memberikan ketakukatan sendiri bagi setiap pengendara, teruatama bagiku yang menjadi pelanggan tetap Kalimalang. Angin kencang yang biasanya terjadi di musim hujan sering membuat pohon-pohon besar yang tumbuh disepanjang aliran sungai Kalimalang tumbang ke arah jalan raya. Beberapa kali kulihat langsung motor dan mobil tertimpa oleh pohon tumbang itu. Makanya bila musim angin kencang datang biasanya aku harus berselingkuh dari Kalimalang, aku lebih memilih melewati jalur alternatif lain  melalui jalan Duren Sawit Bintara, atau sekalian aku mengendarai mobilku yang pasti lebih aman dari hujan.

Musim hujan juga terkadang membuatku terharu ketika harus melihat rumah-rumah yang berdiri di pinggir sungai Kalimalang harus rata dengan air. Setiap musim banjir selalu saja kejadian ini berulang lagi. Penduduk disitu sepertinya sudah kebal dengan banjir. Beberapa pos sumbangan kadang spontan didirikan oleh warga setempat meminta belas kasihan dari para pengendara begitu banjir datang.

Sungai Kalimalang ini merupakan sungai yang angker juga, di siaran berita sering kita saksikan banyak korban pembunuhan dan mutilasi dibuang di sungai ini, bahkan pembuangan janin bayipun sering terjadi disini. Akupun pernah melihat langsung mayat masih mengambang ketika berangkat kerja. Menjijikkan sekali dan mau muntah rasanya, tapi beginilah Kalimalang, punya pengalamannya sendiri.

Akan Kalimalang, hal yang paling seru bagiku adalah ketika macet terjadi. Aku dan para pengendara motor lainnya biasanya sebisa mungkin menyalip-nyalip demi menggerakkan maju motorku sedikit, jalan tikus yang sudah menjadi langganan ada disisi sungai lainnya yang masih belum diaspal, ini alternatif para pengendara motor jika jalan utama macet total. Melintasi tempat pembuangan sampah, melintasi perumahan kumuh, melintasi peternakan ayam yang bau sekali, melintasi panglong kayu yang bau menyengat, dan pastinya melintasi jalan yang penuh debu. Kalian tahu apa yang terjadi? Sesampai di kantor bau badan ini sudah berbeda….

Huh… Kalimalang, bagaimanapun adanya kamu, kamu tetap menjadi pilihan utamaku.

  1. September 29, 2011 pukul 5:20 pm

    Kalimalang bisa juga diolah ya…

  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: