Beranda > Diary, Kisah Nyata, Kristen > Aku Ketua Panitia Natal Perusahaan

Aku Ketua Panitia Natal Perusahaan

Tahun ini aku ditunjuk sebagai ketua panitia natal di perusahaanku. Penunjukkan ini merupakan panggilan pelayanan yang membutuhkan komimen tinggi bagiku, maklum saja yang kubawa disini adalah nama besar perusahaanku, maka wajar bila aku membutuhkan waktu sekitar dua minggu menggumulkan tawaran ini. “Ya, saya siap” Setelah kupikir matang-matang begitulah jawabanku kepada pengurus Persekutuan Doa kantorku dua minggu kemudian. Tuhan mampukan aku melakukan pelayanan ini.

Pelayanan ini benar-benar wadah pembinaan bagiku, karena aku dibentuk dalam banyak hal teruama karekter dan leadership. Selama dua bulan lebih mempersiapkan natal ini satu per satu pelajaran hidup kuserap dengan sendirinya. Tuhan itu memang sungguh luar biasa.

Tantangan peratama yang kuhadapai sebagai leader adalah menyusun kepanitian. Banyak teman-teman yang tidak bersedia ketika kuajak bergabung dalam kepanitiaan, meski mereka adalah teman dekatku sekalipun. Namun aku bersyukur Tuhan terus pimpin aku menunjukkan orang-orang pilihanNya. Pertama ketika memilih Sekretaris, sudah 3 orang kutawari dan semuanya tidak bersedia. Ditengah kebuntuanku mencari orang yang tepat untuk mengisi posisi sekretaris Dia justru tunjukkan orang yang tidak lain adalah teman selantaiku sendiri. Demikian juga ketika memilih koordinator seksi acara. Semua teman-teman yang kuanggap cakap dalam bidang ini justru menolak semuanya, maklum saja pikir mereka mungkin seksi inilah yang paling repot dan penuh tanggung jawab. Lama seksi ini tidak memiliki koordinator, hingga akhirnya aku bertemu dengan Kak Soraya yang tidak lain adalah mantan sekretaris direktur keuangan. Tuhan itu sungguh luar biasa, pada akhirnya saya melihat andil kak Soraya sangat besar dalam kepanitiaan ini. Ditengah jalan saya juga mendapat sedikit hambatan karena koordinator seksi publikasi dan dokumentasi tiba-tiba mengundurkan diri karena kesibukan pekerjaannya (meskipun pada akhirnya aku tahu bahwa ada alasan lain yang lebih tepat atas pengunduran dirinya tersebut). Tuhan pun akhirnya menujuk Eka Irawan untuk menggantikannya. Eka meskipun pendiam dan jarang tampil namun pekerjaannya cukup kuacungkan jempol.

Susunan kepanitiaanpun akhirnya final. Selama memimpin kepanitiaan ini satu doaku yang tidak pernah lupa kupanjatkan kepada Tuhan adalah “Kesehatian panitia”. Keyakinanku adalah bahwa kunci keberhasilan acara ini adalah apabila panitia sehati, kompak, dan saling bergotong royong.

Setelah kepanitiaan lengkap. Aku bawalah timku ini beraudiensi ke ruangan Direktur Utama untuk melaporkan persiapan hingga pelaksanaan natal perusahaan ini. Sungguh luar biasa pak Dirut memberikan respon yang cukup baik atas pelaksanaan natal ini. Pada pertemuan tersebut fokus Pak Dirut ada pada bantuan Diakonia, oleh karena itu kami mempersiapkan yayasan/pelayanan yang tepat untuk dibantu.

Natal kali ini terasa istimewa bagiku secara pribadi juga bagi perusahan kami. Karena kami memproduksi sebuah film indi yang diperankan oleh kami-kami juga selaku karyawan. Triler film tersebut dapat dilihat di Youtube. Bermain film adalah pengalaman pertama bagiku dan juga teman-teman lainnya. Seru, menegangkan, lelah, tertawa, dll pokoknya semua rasa ada deh.

Natal dilaksanakan tanggal 20 Desember 2011 di Gedung YTKI Jakarta. Pesan Natal disampaikan oleh  Pdt. Ir. Armand Barus, Phd. Dua direksi perusahaan berkenan hadir, ini sungguh merupakan sukacita bagi kami semua selaku karyawan. Dihadiri oleh hampir 500 orang karyawan dan keluarga menambah kebahagiaan natal ini. Kami seperti the real family, keluarga karyawan kristiani yang dipersatukan didalam perusahaan ini. Jumlah peserta yang hadir ini melampaui ekspektasi kami sebelumnya. Kami sungguh bersyukur karena Tuhanlah yang bekerja dalam kepanitiaan ini.

Tim kepanitaan ini adalah tim yang sangat luar biasa, didalamnya terdapat orang-orang pilihan Tuhan yang sangat berkualitas. Terimakasih Tuhan Engkau uji lagi leadership skill ku melalui kepanitian ini. Biarlah kesuksesan perayaan natal ini hanya untuk kemuliaanMu semata.

Pembuatan film “Jalan Buntu”

Ketika ide pembuatan film ini muncul, hal pertama yang menjadi pergumulan kami adalah siapa yang akan bermain. Teman-teman yang sudah kami tentukan sebelumnya menolak dengan berbagai macam alasan. Mau tak mau akupun “terpaksa” ikut bermain dalam film ini (meskipun pada akhirnya aku bersyukur bisa berperan dalam film ini). Dan yang paling mengagetkanku aku diminta berperan sebagai copet. Alamak…

Film ini berkisah tentang dua orang sahabat sejak kecil yang kemudian bertemu di Jakarta dengan kondisi yang berbeda, satu sebagai orang kantoran dan satu lagi sebagai copet. Film ini bercerita tentang pengorbanan dan integritas. Kasih yang sejati adalah ketika seseorang mengorbankan nyawanya untuk sahabatnya, begitulah kesimpulan dari film ini.

Suting dilakukan dalam dua hari ditambah satu hari lagi karena ada scene yang kurang bagus sebelumnya. Pembuatan film ini sungguh melelahkan karena aku harus berperan sebagai jambret yang dikejar-kejar massa. Bayangkan saja adegan berlari-lari harus diulang berkali-kali untuk mengambil angel yang tepat.

Puji Tuhan kelelahan tersebut terbayar lunas ketika  menonton langsung film tersebut. Sungguh luar biasa karya lae Vio selaku sutradara dan crew. Bagi teman-teman yang hendak memiliki film ini bisa langsung menghubungi saya.

Menjadi berkat bagi banyak orang

Natal kali ini sungguh menjadi berkat bagi banyak orang, terutama aku yang mendapat banyak pelajaran hidup. Demikian juga timku yang lain yang diajarkan mengenai tugas dan tanggung jawab, mengenai panggilan melayani dan kerjasama tim.

Pada natal kali ini, seperti yang dipesankan pak Dirut sebelumnya mengenai bantuan diakonia, kami memutuskan memberikan bantuan diakonia kepada tiga lembaga/kegiatan, yang pertama adalah kepada panitia natal komunitas tunanetra sejabotabek, kedua kepada pelayanan Bapak Thomas Selan, dan terakhir kepada pelayanan Bapak Felix Kristiadi. Kedua lembaga terahir adalah tempat pemulihan orang-orang depresi/gila. Dan sungguh luar biasa juga jika pasien pemulihan tersebut bisa datang dan mempersembahkan pujian pada natal kali ini.

Dan terkahir melalui Kotbah Pdt Arman Barus, Phd yang bertema ‘Jadilah Cahaya Penerang” banyak orang yang diberkati. Kotbah Pendeta mengajarkan kepada kami untuk berintegritas, tetap bercahaya ditengah dunia yang penuh kegelapan, dan tentunya Cahaya penerang bukan cahaya yang redup.

Dua kisah lucu

Sepanjang periode kepanitian ini menurutku ada dua hal yang paling lucu bagiku, Pertama, H-1 aku masih terus berpikir apa saja yang kurang untuk acara besok. Meski diatas motor sekalipun aku terus memikirkan persiapan natal besok. Tanpa sadar tiba-tiba aku sudah tiba di depan rumah lamaku. Alamak… sangkin memeikirkan natal aku bahkan lupa arah rumahku yang baru.

Kedua, ketika hari H, selaku Ketua Panita Natal saya yang akan menyerahkan ucapan terimakasih ke Pendeta. Karena kondisinya memang lagi repot, tanpa sadar yang kusalamkan adalah buku acara yang sebelumnya sudah ada di kantong jas ku. Sesampai di rumah aku baru sadar kalau amplop ucapan terimakasih masih ada di dalam kantongku yang lain. Besoknya aku jumpai Pak Pendeta tersebut di rumahnya. Tertawa terpingkal-pingkal kami mengingat kejadian tersebut.

Sampai sekarangpun aku masih sering senyum sendiri bila mengingat kedua peristiwa lucu tersebut.

Kemuliaan bagi Tuhan di tempat yang maha tinggi

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: