Beranda > Diary > Natal Yang Sederhana Bersama Keluarga Kecilku

Natal Yang Sederhana Bersama Keluarga Kecilku

Menu makan malam di natal natal kami kala itu adalah ikan asin, lalap dan sambal terasi. Malam natal itu terasa berbeda bagi kami, karena kami hanya tinggal dirumah, tidak berpergian ke luar kota dan tentunya hanya ada kami bertiga; aku, istriku dan anakku yang sudah mulai ngoceh dengan sendirinya ditambah pembantu kami yang setia menemani dan anjing lucu kami.

Malam sebelumnya dan pagi hari itu kami bertiga pergi ke gereja dihantar oleh sepeda motor setia kami, hujan turun rintik-rintik membasahi bumi, sepertinya mereka tahu kalau hari ini Sang Juru Selamat telah hadir ke setiap hati. Hal ini terasa berbeda bagi kami, karena biasanya kami pergi ke gereja disaat natal di temani keluarga besar kami. Ah, meskipun demikian kami sunggu menikmati natal kami tahun ini.

Beberapa hari sebelumnya pohon natal telah berdiri indah di pojok ruang tamu kami, senang sekali rasanya dengan kebersamaan keluarga kecil apalagi anak kami yang membantu mengacak-ngacak hiasan pohon natal (mungkin itu kali bentuk bantuannya), keluarga ini menjadi terasa lebih hangat rasanya. Anjing kami – Gordy menggonggong diluar sana menyambut canda tawa kami dari dalam rumah. Inilah natal pertama kami di rumah milik kami sendiri.

Natal tahun ini memang terasa berbeda, keputusan kami membeli rumah baru di tengah pusat kota Bekasi hingga harus menjual mobil dan mengencangkan cashflow mau tak mau membuat kami berkomitment untuk hidup apa adanya. Teringatku ketika masa sulit di kampung dulu, hingga saat-saat nge-kost di perantauan untuk kuliah dan mencari kerja. Betapa asiknya bisa menikmati makanan sederhana ditemani sambal yang menggetarkan lidah. Ehm… akhirnya sat-saat itu terulang kembali.

Biasanya kami bisa bepergian kemana saja, apalagi ada mobil yang setia mengantar kami, namun tahun ini kami harus menembus rintikan hujan mengendarai motor untuk sekedar bisa pergi ke gereja. Siangnya untuk mengisi liburan natal kami bahkan harus berpikir berulang kali untuk bisa mencapai Blok M, pikirku kita pergi berjalan-jalan ke blok M saja menumpang bis kota, disana kita bisa melahap bakso di depan Mall Blok M langganan kita dulu ketika berpacaran. Indahnya kesederhanaan itu, ujar istriku.

Meskipun tahun ini kami tidak pulang kampung menemui keluarga besar kami, namun kami sungguh bahagia bisa merayakan natal sederhana di rumah kami, kemi bisa menapak tilas masa-masa kelam kami sebelum menikah dulu. Mungkinkah melalui ini Tuhan mengajarkan kami untuk tidak lupa daratan. Mengingatkan kami pula bahwa Yesus lahir ke bumi dengan kesederhanaan, lahir dikandang domba dan tidur di dalam palungan.

Kategori:Diary Tag:,
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: