Beranda > Diary > Sahabatku dalam Menulis

Sahabatku dalam Menulis

Biasanya setiap ada peristiwa khusus yang terjadi atau event besar yang aku ikuti, aku selalu mendokumentasikannya dalam sebuah tulisan. Ingat aku sejak SMA, aku selalu membawa buku saku kecilku kemanapun aku pergi hanya untuk mencatat hal-hal tertentu yang menurutku menarik, apakah itu alamat, nomor telepon, kata bijak, daftar nama, dll. Ketika beranjak kuliah pun demikian, apalagi di tanah perantauan, setiap peristiwa kudokumentasikan dalam buku diary kecilku. Bahkan ketika aku mengikuti pertukaran mahasiswa selama satu semester di Kampus lain, setiap hari diarykulah yang selalu setia menemaniku.

Aku masih ingat betul sudah berapa buku diary yang kuhabiskan untuk kebiasaanku itu. Beberapa diantaranya masih kusimpan sampai sekarang, dan beberapa yang lain hilang tak berbekas. Terkadang ketika membaca buku-buku itu lagi tertawa geli sendiri aku jadinya. Apalagi jika yang membacanya adalah istriku, dilihatnyalah di situ saingan-saingannya dulu yang mampu memikat hatiku..ha..ha..ha..ha…

Aku juga pernah menghasilkan buku karyaku sendiri. Dua diantaranya yang paling ku kagumi justru hilang di tangan teman yang meminjam yang sangat tidak bertanggungjawab mengembalikannya. Pertama adalah buku karya puisiku. Ya, dulu aku sangat senang sekali membuat puisi, dimanapun dan dalam kondisi apapun itu bisa menjadi inspirasiku menciptakan sebuah puisi. Beberapa kali pula aku pernah menjuarai lomba baca puisi di sekolahku. He..he..he.. masih tingkat sekolah sih memang. Buku itu raib justru oleh teman dekatku di SMA yang katanya ingin membaca-bacanya di rumah. Kedua adalah buku panduan kepramukaan. Sejak SD aku sudah aktif di pramuka, semua ilmu kepanduan yang kuperoleh hingga aku menjadi pelatih pramuka kudokumentasikan dalam buku itu. Sangat tebal buku itu, dan semuanya kutulis dengan tanganku. Lagi-lagi buku itu hilang tak berbekas oleh teman dekatku yang tiba-tiba tertarik melatih pramuka.

Ada satu lagi buku yang kubuat sangat nyentrik, buku ini lebih tepat kusebut dengan jurnal, karena mencatat setiap sudut gerakku ketika kuliah sarjana dulu. Buku itu adalah catatan keuanganku sejak pertama sekali aku meninggalkan kampung halamanku sampai hari dimana aku diwisuda menjadi sarjana. Sepeserpun uang keluar dan masuk kucatat di situ. Kenapa buku ini kuanggap nyentrik? Buku ini kubuat pada awalnya adalah bentuk pertanggungjawabanku terhadap kiriman uang yang setiap bulannya kuterima dari orangtuaku. Harapanku nanti ketika wisuda akan kuberikan kepada orangtuaku. Ya benar, ketika wisuda, sebelum kutunjukkan kepada orang tuaku, buku ini kubacakan dulu dihadapan teman-temanku di acara kecil-kecilan yang kubuat waktu wisuda itu: “Selama perkuliahanku aku telah menghabiskan uang sebesar RP………..” Disinilah letak nyentriknya, baru kusadari ternyata bahwa beberapa temanku menganggap aku sombong dengan menyebutkan nominal rupiah itu. ha..ha..ha… Dan kalian tahu siapa salah satu temanku yang ngomong itu? Dia adalah wanita yang menjadi istiku kini. He…he..he..

Dari semua tulisan-tulisanku itu, hanya satu topik yang terus menjadi “trending topic”, yaitu pergumulanku dengan Tuhan. Aku lahir baru di kelas 2 SMA, pas sekali dimasa-masa produktifnya aku menulis. Kulalui masa-masa awal kehidupan baruku terus bersama Tuhan: Pujian, penyembahan, permohonan, umpatan, kebingungan, kehampaan, kebosanan, makian, penyesalan, sharing, candaan, dlsb, kulakukan semua itu bersama-sama denganNya. Kusadari akhirnya justru bukan buku dan tulisan-tulisan itu yang menjadi sahabatku tetapi Tuhan yang hadir dalam setiap tulisan itulah yang menjadi sahabat sejatiku.

Lagi-lagi terkait dengan istriku yang sangat kucintai ini. Sejak SMA aku sudah berkarakter Kolerik Melankolis – tipe karakter favorite seperti Rasul Paulus, oleh karena itu di masa SMA tidak sulit bagiku untuk mendapatkan wanita incaran. Namun hal yang sebaliknya terjadi di masa mahasiswaku: sekalipun aku tidak pernah pacaran. Bukan karena aku tak mau berpacaran, namun Tuhan belum mengijinkannya saat itu. Pernahlah aku marah pada Tuhan, karena tak kunjung diberikanNya. Kutuliskanlah semua pergumulanku itu di buku diaryku. Siapa sangka wanita pertama yang ku kenal di Persekutuan Mahasiswa Lampung yang seangkatan denganku yang justru Tuhan persiapkan untukku. Hampir empat tahun masa mahasiwaku justru Tuhan persiapkan untuk mengenalnya, kami berteman dekat, melayani bersama, aku jadi MC dan dia jadi pemusik, aku jadi pemimpin PA dan dia jadi audiencenya, terlibat di kepanitian bersama. Bahkan jika dihitung-hitung mungkin kami lebih sering berantemnya daripada akurnya. Hi..hi..hi.. Namun itulah cara Tuhan untuk mempersatukan kami, hingga akhirnya kami menjalin hubungan setelah sama-sama lulus kuliah. Hebatkan Tuhanku itu. Hingga akhir kisah itupun juga kutuliskan di bukuku itu.

Sekarang teknologi sudah semakin canggih, menulis tidaklah lagi harus di atas kertas, tapi sudah ada medianya di internet, namanya adalah blog. Aku memiliki dua buah blog, yang satu untuk mendokumentasikan hobi menulisku (https://harrysimbolon.wordpress.com/), dan yang satu lagi lebih kepada pilihan profesiku (http://akuntansibisnis.wordpress.com/). Setelah lama menulis aku akhirnya menyadari untuk apa semua tulisan itu jika tidak bermanfaat bagi orang lain. Itulah alasanku menulis blog profesionalku itu. Aku senang sekali ternyata sudah banyak orang yang mengutip tulisanku di blog itu menjadi artikel, skripsi, atau bahkan tesis.

Meski mungkin secara penilaian jurnalistik tulisanku jauh dari kata berkelas. Namun satu yang kuingat ucapan dari salah seorang seniorku yang pernah menjadi mentor jurnalistikku: “Menulislah apa saja yang ada di benakmu, orang itu dinilai berkualitas jika mampu menuangkan pemikirannya dalam ucapan dan tulisan”.

Akhirnya aku akan terus menulis, dan tentunya Tuhan akan terus menjadi trending topicku. Bahkan Aku tidak akan bisa lepas dari tulis menulis ini, karena pilihan profesiku adalah akuntan, aku akan menulis/mencatat transaksi keuangan perusahaan sepanjang karir profesiku.. he..he..he.. dan aku terus berdoa pun pencatat transkasi keuangan, kan kusertakan Tuhan dalam tulisan-tulisanku itu.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: