Beranda > Diary, Keluarga > Dua Tahun dan Satu Bulan

Dua Tahun dan Satu Bulan

Hari ini anakku Andrew tepat berusia dua tahun, sementara adiknya Tita, dua hari lagi akan berusia satu bulan. Tidak semeriah tahun lalu, tahun ini ultah Andrew hanya kami rayakan dengan meniup lilin saja di rumah, kemudian hari minggunya sedikit berbagi kebahagiaan dengan membagi goody bag dengan teman-teman sekolah minggu Andrew di Gereja. Meskipun begitu, kebahagiaan kami sebagai orangtuanya tidak berkurang sedikitpun, kekocakan tingkah polah Andrew menjadi benih-benih canda tawa bagi kami setiap harinya.

Tita, memang masih hanya bisa nangis dan tidur dan tentunya pipis serta pup. Cewek banget deh pokoknya, kalau nangis cengeng banget sampai tersedu-sedu. Kata orang tua sih sudah bau tangan, karena jika digendong pasti akan diam nangisnya, kalau tidak di gendong pasti akan semakin nangis. Huh, ada ada saja ya.

Seperti Abangnya – Andrew, Tita pun demikian, sejak dari kandungan kami terus berdoa agar anak ini nanti besarnya akan menjadi anak yang takut akan Tuhan dan menjadi berkat bagi banyak orang. Sedari kandungan kami terus memohon kepada Tuhan untuk diberikan kepintaran dan kesehatan kepada anak anak kami ini. Bahkan lebih lucunya lagi, ketika usai nikah, sebelum kami ‘buat anak’ pun kami sudah berdoa demikian. He..he..he..

Di usia dua tahun ini Andrew sudah banyak memiliki perbendaharaan kata, meski ngomong belum begitu lancar, namun daya ingin tahunya sudah sangat kelihatan. Kepintarannya pun sudah mulai kelihatan, terbukti dengan ucapan dan aksinya yang terkadang di luar dugaan kami. Kelincahannya apalagi, hampir setiap hari sangkin lincahnya Andrew terjatuh atau terbentur. Namun di sisi lain kenakalannya semakin menjadi-jadi, sudah mulai banyak “cengkuneknya”, begitulah mungkin yang orang Medan bilang. Seperti anak usia dua tahun kebanyakan, Andrew sudah mulai menyadari posisi dirinya, sudah tahu dimanja, sudah tahu disayang, dan sudah tahu diperhatikan. Terkadang pula Andrew sudah mulai menempatkan dirinya menjadi bos, papa dan mamanya harus nurut sama dia. Huh, memang ada-ada aja ya anak jaman sekarang ini.

Sementara Tita, di usianya yang sebulan ini sudah mulai tidak me-lemburkan kami lagi. Jadwal tidurnya sedini mungkin didisiplinkan oleh mamanya. Sesekali memang salah satu dari kami harus bangun untuk sekedar mengganti popoknya atau memberinya susu. Raut mukanya sudah terbentuk, cantik (uli bahasa bataknya) seperti nama tengahnya ‘Tiurmauli’ yang artinya jadi teranglah cantik. Semoga saja kelak nama itu menjadi doa yang terkabulkan. Namun Tita mungkin tidak seputih abangnya, kulitnya lebih kecoklat-coklatan, dan tidak memiliki lesung pipit seperti abangnya. Itulah karya Tuhan itu yang menciptakan setiap manusia berbeda-beda. Pun demikian, kecantikan hati Tita lah nanti yang akan menentukannya, seperti doa-doa kami selama ini.

Andrew sangat sayang dengan adiknya, setiap kali ia berusaha mencium kening adiknya, membelai-belai muka dan tangan adiknya, ngomong enggak jelas di depan mata adiknya, atau bahkan unjuk diri menunjukkan sesuatu di depan adiknya. Tita yang memang belum tahu apa-apa terkadang malah nangis dengan aksi abangnya itu. Huh, begitulah anak kecil ya. Semoga saja anak-anakku akur terus sampai besarnya nanti.

Menjadi orang tua, itulah profesi kami yang sebenarnya sekarang. Apalagi sudah berbuntut dua begini. Mau apapun yang kami kerjakan pasti akan terus memikirkan anak. “Sekarang kita sudah punya dua anak ya” terkadang kalimat ini nyeletuk sendirinya di tengah pembicaraan kami, serasa tidak percaya saja bumi ini begitu cepatnya berputar. Terkadang aku merenung sendiri, akan jadi apa yang anak-anakku ini kelak, dia bekerja sebagai apa ya nanti, dimana ya dia tinggal nanti, dll. Huh, semakin aku menduga-duga, maka semakin jauh lamunanku, biarlah saja Tuhan yang menentukan masa depan mereka.

Masih panjang memang kewajiban kami untuk mendidik dan membesarkan anak-anak kami ini. Kedepan mungkin akan semakin banyak tantangan dan cobaan, kedepan juga pasti kebutuhan akan semakin besar. Inilah yang akan terus kami pergumulkan bersama-sama dengan Tuhan. Ku yakin bersama Tuhan kami bisa jalani semuanya dengan baik.

Kategori:Diary, Keluarga
  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: