Beranda > Diary, Kristen, Rohani > Perjalanan Ini Menenuntunku Bergereja di GKI

Perjalanan Ini Menenuntunku Bergereja di GKI

Menggoreskan kembali secarik kertas perjalan ini, kali ini aku mau berkisah mengenai pilihanku bergereja di Gereja Kristen Indonesia (GKI). Tulisan ini tidak bermaksud menyudutkan denominasi gereja tertentu, hanya sekedar melukiskan rentetan perjalanan hidup ini.

Aku memang bukan warga GKI sejak lahir. Ketika kecil aku dibaptis di Gereja Huria Kristen Batak Protestan (HKBP) Deras, sebuah gereja kecil di luar komplek perumahan perusahaan dimana kami tinggal dulu. Setelah peristiwa percekcokan besar-besaran yang melanda HKBP kala itu akhirnya orangtuaku memilih untuk pindah gereja ke Gereja Kristen Protestan Indonesia (GKPI) resort Indrapura, gereja ini memang memiliki paham yang hampir sama dengan HKBP.

Meski telah terdaftar sebagai jemaat di GKPI, namun kami sekeluarga lebih memilih bergereja di Gereja Persekutuan Kristen Oikumene Tanjung Gading (PKOTG), sebuah gereja yang peruntukannya khusus bagi karyawan perusahaan yang tinggal di dalam kompleks. Alasannya ialah selain dekat rumah, jemaatnya juga adalah orang-orang yang kami kenal karena tetangga-tetangga kami juga. Aturan Gereja PKOTG saat itu memang mengharuskan setiap jemaatnya terdaftar sebagai jemaat di gereja asal, sehingga PKOTG hanya bersifat perpanjangan tangan gereja asal saja. Sampai dengan remaja aku aktif di gereja PKOTG ini, bahkan aku didaulat menjadi ketua pemuda di gereja ini kala itu. Di Gereja PKOTG ini pulalah aku meneguhkan iman percayaku (naik sidi). Ketika aku Menikah, orangtuaku pun lebih memilih untuk diberkati di Gereja PKOTG ini daripada di GKPI. Anak pertama kami Andrew juga dibaptis di Gereja PKOTG ini.

Ketika aku melanjutkan pendidkan Sarjana di Bandar Lampung, ada sedikit kebimbangan dihatiku, kemana aku hendak bergereja. Hampir semua teman-temanku bergereja di HKBP, karena memang mereka berasal dari HKBP. Beberapa teman yang bergereja di GKPI  ketika mengetahui asal gerejaku dari GKPI berusaha mengajakku beribadah di GKPI. Beberapa kali memang aku bergereja disana, dan mengikuti kegiatan pemuda disana. Sedikit terpanggil aku memang melihat GKPI Bandar Lampung yang memang masih membutuhkan banyak hal. Kondisi gereja yang sangat sederhana, dan jemaat yang masih membutuhkan kebangunan. Namun kesejahteraan dengan panggilan beribadah tidak sejalan, aku kurang nyaman setiap bergereja disini. Selain bahasa Batak yang belum kumengerti dengan baik, juga tata ibadah yang selalu berantakan, belum lagi Ibadah yang berisik karena banyak anak-anak di dalam gereja. Akhirnya akupun memilih bergereja GKL alias Gereja Keliling Lampung. He..he.. Saat mahasiswa aku memang aktif di pelayanan mahasiswa yang banyak menjalin hubungan dengan gereja-gereja sekitar. Tidak nyaman sih memang bergereja berkeliling begini. Diantara gereja-gereja tersebut aku memang lebih senang bergereja di GKI Bandar Lampung.

Pada tahun 2004 aku mendapatkan kesempatan pertukaran mahasiswa ke UGM Yogyakarta. Selama di Yogya aku bergereja di GKI Gejayan, karena sebelumnya aku pernah diajak temanku bergereja disini, maka seterusnya selama di Yogya aku bergereja disini.

Kemudian ketika lulus kuliah, aku merantau ke Jakarta, menumpang di rumah paman di Depok hingga ngekos sendiri di daerah margonda. Disini meski sekali-kali aku ikut bergereja dengan keluarga paman di HKBP Depok Timur, namun sekali-sekali pula aku pergi bergereja di GKI Depok atau di GPIB Kelapa Dua Depok.

Perjalananku terus berlanjut manakala aku diterima di perusahaanku saat ini dan ditempatkan pertama sekali di Sukabumi Jawa Barat. Lagi-lagi aku diperhadapkan dengan pilihan beribadah, ada Gereja Kristen Pasundan (GKP) yang berdekatan dengan kosanku, HKBP yang berdiri megah dipinggir jalan masuk Sukabumi, Gereja Baptis di pinggir jalan utama arah menuju kantorku, dan juga GKI yang berdekatan dengan sekolah BPK penabur. Kucoba pertama kali bergereja di Gereja Baptis, ibadahnya hampir sama memang ketika saat di persekutuan mahasiswa dulu, namun entah kenapa aku merasa kurang nyaman saja, kemudian kucoba juga bergereja di GKP, sama, aku juga merasa kurang sreg bergereja disini, akhirnya lagi-lagi aku menjatuhkan pilihan bergereja di GKI Zainal Zakse Sukabumi. Disini aku sempat bergabung dengan pemuda, berteman dan mengenal beberapa jemaat.

Sembari bekerja, aku melanjutkan studi pascasarjana setiap akhir pekan di Unpad Bandung. Jikalau aku bermalam di Bandung maka hari minggunya biasanya aku bergereja di GKI Maulana Yusuf atau di GPIB Bethel. Namun apabila aku menemui kekasihku di Bekasi maka kami akan bergereja di GKI Agus Salim Bekasi.

Dari perjalanan tersebut entah mengapa GKI selau menjadi pilihanku, aku menyadari bahwa beribadah di GKI memberikan pertumbuhan bagiku. Jemaat GKI juga ramah-ramah dan hangat, aku selalu disapa oleh jemaat di GKI manapun. Pendeta GKI yang berkotbah juga kalau kuperhatikan selalu terstruktur, tidak bertele-tele dan tidak garing melebar kemana-mana.

Akhirnya ketika kami menikah, tanpa ada komentar, kami berdua sepakat untuk berjemaat di GKI yang dekat dengan rumah kami, yaitu GKI Jati Asih Bekasi. Dua tahun sudah kami berjemaat disini, anak kedua kami Brittany telah dibaptis di sini. Dan sekarang aku sangat mengapresiasi Majelis Jemaat GKI Jati Asih karena telah memilihku sebagai ketua panitia paskah, meski aku jemaat baru disini. Segala kemuliaan bagi Allah, semoga Allah saja yang ditinggikan. Dimanapun dan kapanpun aku selalu siap menjadi alat-Mu.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: