Beranda > Keluarga, Opini > Pelajaran Kepemimpinan

Pelajaran Kepemimpinan

Pengalaman Memimpin Kepanitiaan di Gereja

Kali ini saya mau berbagi tentang pengalaman saya memimpin kepanitiaan di lembaga kerohanian. Pengalaman ini sangat berkesan sekali bagi saya sekaligus banyak pelajaran yang bisa diambil dalam membentuk model kepemimpinan saya.  Memimpin di lembaga kerohanian apakah itu persekutuan kampus, gereja, persekutuan lingkungan, dll sangat berbeda sekali dengan memimpin di lembaga lembaga sekuler seperti kantor, ormas, parpol, komunitas hobi, dll. Salah satu pembeda utamanya adalah posisi sang pemimpin yang akan saya jelaskan nanti. Semoga sharing saya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca.

Menerima atau menolak

Bulan Januari lalu saya dihubungi oleh salah seorang majelis gereja untuk menanyakan kesediaan saya memimpin kepanitiaan paskah di gereja. Terus terang tawaran ini membuat saya terkejut, bagaimana mungkin saya yang dipilih, padahal saya baru dua tahun berjemaat di gereja ini. Kenapa saya yang masih muda ini yang diminta, padahal banyak orang tua dan yang berpengalaman disana. Saya tidak langsung memutuskan saat itu karena pilihan melayani Tuhan adalah Komitmen, bukan asal-asalan, oleh karena itu diperlukan pertimbangan yang cukup matang. Saya minta beberapa waktu untuk mempertimbangkannya.

Memang sebelumnya saya sudah banyak terlibat memimpin di beberapa organisasi/kepanitian lembaga pelayanan. Saya pernah menjadi ketua pemuda gereja di kampung halaman saya. Saya menjadi inisiator pembentukan kembali persekutuan mahasiswa Kristen di fakultas saya dulu, setelah itu saya terlibat dalam memimpin dan menyiapkan pemimpin berikutnya. Saya juga beberapa kali terlibat dalam memimpin kepanitiaan di lembaga pelayanan Perkantas. Demikian juga di kantor, saya pernah dua kali diminta menjadi ketua panitia natal perusahaan. Semuanya itu memang bermanfaat sekali dalam membentuk tipe kepemimpinan saya, namun pilihan terlibat dalam kepemimpinan di gereja setelah dewasa baru kali ini terjadi.

Pertimbangan saya cukup matang kala itu, karena lagi-lagi terkait dengan komitmen. Untuk apa terlibat kalau cuma setengah-setengah. Saat ini saya sudah menjabat sebagai sekretaris di kumpulan warga di lingkungan perumahanku, aku juga menjadi sekretaris di kumpulan marga istriku, kegiatanku dikantor yang sering pulang malam juga menjadi pertimbangan berat, apalagi proses integrated audit di kantor juga belum usai. Dan terakhir waktu dan perhatian buat keluargaku akan terus menjadi prioritas utamaku. Setelah berdiskusi dengan istriku, maka aku terima tawaran pelayanan ini.

Memilih dan menyusun tim

Langkah pertama adalah membentuk susunan kepengurusan. Terus terang aku belum banyak mengenal jemaat disini, oleh karena itu aku lebih mempercayakan kepada temanku yang lain dan panitia pendamping untuk membentuk susunan kepanitian yang lengkap. Menurut teori dasar kepemimpinan ini adalah kesalahan besar. Bagaimana mungkin Jendral memilih pasukan tempur yang sama sekali tidak dikenalnya. Apa mau dikata, aku jemaat baru disini, pilihan atas rekomendasi orang lain mungkin bisa masuk diakal.

Kepengurusan lengkap di atas kertas resmi terbentuk. Namun permasalahan timbul kala pertemuan pertama ternyata hanya segelintir orang yang datang. Dimana komitmennya? Ini komentarku pertama. Aku tidak bisa mempermasalahkan mereka karena akupun juga tidak kenal baik dengan mereka. Beberapa pertemuan selanjutnya pun demikian, hanya orang-orang itu saja yang akif datang dan terlibat. Bersyukur kepada Tuhan karena meskipun hanya segilintir saja yang aktif, namun ide, pemikiran dan kontribusi mereka dalam kepanitian ini sungguh luar biasa, akupun tak menyangka kalau ternyata semua acara nantinya bisa dilaksanakan oleh kami-kami ini saja.

Rangkaian acara yang sangat panjang

Tak pernah terpikirkan olehku sebelumnya bahwa ternyata kepanitian paskah di gereja ini harus mempersiapkan acara dari Rabu abu di pertengahan bulan Februari sampai Pentakosta di pertengahan bulan Mei. Dan setiap minggunya juga harus mempersiapkan ibadah pra paskah dan ibadah minggu paskah. Itu artinya selama tiga bulan lebih panitia terus bekerja mempersiapkan rangkaian kegiatan ini.

Syukur kepada Tuhan, meskipun sedikit terseok-seok diawalnya, namun semuanya dapat berjalan dengan baik, terimakasih kepada semua rekan-rekan panitia yang terlibat aktif di kepanitiaan ini. Tuhan pasti melihat jerih lelah kalian.

Konser Paskah

Satu kegiatan yang diinisasi oleh panitia adalah Konser Paskah. Kegiatan ini selain bisa menyalurkan bakat dan kreatifitas insan seni di geraja ini, kegitan ini juga berfungsi sebagai alat pengumpulan dana untuk pembangunan gereja. Terus terang saya sangat setuju dengan kegitan ini, oleh karena itu saya berjuang sebisa mungkin kegiatan ini bisa dilaksanakan. Pertimbangan sederhanaku adalah bahwa aku tidak bisa memberi banyak untuk pembangunan gereja, tapi aku bisa menggunakan kegiatan ini agar orang-orang mau memberi untuk gereja.

Polemik sedikit terjadi disini karena memang panitia yang tidak solit, kami memang sudah membentuk panitia kecil yang terdiri dari perwakilan panitia paskah, perwakikan komisi musik gereja dan perwakilan panitia pembangunan, Namun apa daya mungkin karena kesibukan masing-masing sepertinya acara ini kurang persiapan. Puji Tuhan seminggu sebelum hari H komisi pemuda bersedia mengulurkan bantuannya. Luar biasa, Tuhan berikan jalan keluar pada waktunya. Acara dapat berjalan dengan baik, dan bisa terkumpul dana sekita 50 juta untuk pembangunan gereja.

Pelajaran Tentang Kepemimpinan

Banyak pelajaran yang bisa kupetik dari semua proses yang terjadi di kepanitiaan ini. Pertama adalah mengenai pemimpin yang melayani. Aku memang belum memberikan porsi yang tepat dalam hal ini, namun aku belajar bahwa semakin aku merendahakan hati maka pekerjaan dapat dilakukan secara bersama-sama. Kedua, komitmen, sedari awal aku sudah memeberikan highlight akan hal ini, dan terbukti komitmen menjadi kunci keberhasilan kegiatan ini, tanpa komitmen, banyak panitia yang pada awalnya bersedia menjadi panitia tetapi kemudian tidak bisa memberikan kontribusinya ke kepanitiaan. Dengan komitmen pula beberapa panitia melaksanakan tanggungjawabnya menyelesaikan semua rangkaian kegiatan paskah ini.

Pelajaran ketiga adalah tentang pengaruh, sebagaimana pemimpin pada umumnya selalu disegani dan ditakuti, permintaannya selalu dituruti oleh para pengikutnya, namun hal ini tidak terjadi padaku, aku lebih suka tipe kepemimpinin tut wuri handayani, dimana aku memberikan dorongan dan arahan dari belakang. Mamang tipe ini kurang baik diterapkan di lingkungan modern sekarang ini, karena justru si pemimpin seperti tidak terlihat karena selalu ada di belakang. Namun dasar pemikiranku adalah aku ingin melibatkan orang lain untuk tampil lebih dari pada aku sendiri.

Pelajaran berikutnya adalah mengenai komunikasi yang efektif. Dengan komunikasi yang baik, apalagi sekarang ini sudah didukung oleh teknolgi yg modern maka seharusnua kendala-kendala komunikasi dalam organisasi bisa diatasi. Namun hal lebih penting dari semuanya itu adalah, komunikasi tanpa empati dan simpati tidak ada artinya, oleh karena itu saya lebih mendukung upaya komuniksi persuasive dalam setiap penyampaian informasi.

Pelajaran terakhir dan menurutku memiliki porsi yang lebih adalah konsistensi. Konsistensi dalam hal ini mencakup konsistensi dalam sikap dan perbuatan, konsistensi dalam ucapan dan pandangan, dan konsistensi dalam merespon dan menghadapi sesuatu hal. Menurut pendapatku keteladanan itu tolak ukurnya dari sini, yaitu konsistensi akan ketiga hal ini.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: