Arsip

Archive for the ‘Artikel bebas’ Category

Wanita Muda Cantik Mau Menikah dengan Pria Kaya

Februari 8, 2013 1 komentar

Seorang wanita memposting sebuah pertanyaan melalui sebuah forum terkenal dengan bertanya:

“Apakah yang harus saya lakukan untuk dapat menikah dengan pria kaya?”

Saya akan jujur dengan apa yang aku katakan. Usia saya 25 tahun. Saya sangat cantik, bergaya dan memiliki selera yang tinggi. Saya berharap menikah dengan pria kaya dengan penghasilan pertahun $500 ribu (+/-Rp 5 miliar) atau lebih. Baca selanjutnya…

Iklan

Testimoni Mengurus Paspor di Kantor Imigrasi Bekasi

Januari 9, 2013 4 komentar

Pertengahan Desember lalu, saya diajak oleh salah satu pejabat di kantorku untuk menemaninya memberikan konsultasi pada salah satu grup perusahaan lainnya di luar negeri. Rencana keberangkatan kami adalah awal Januari 2012.  Pikiranku langsung tertuju pada pasporku yang mungkin saja sudah habis masa berlakunya. Benar, setibanya di rumah langsung ku pastikan, ternyata pasporku baru saja habis masa berlakunya. Langkah selanjutnya adalah mengurus paspor baru. Disinilah awal kisah ini. Baca selanjutnya…

Bapak Presiden, Bolehkah Saya Bertanya?

Surat untuk Presiden SBY

Bapak Presiden SBY yang sangat saya hormati, sudah sejak awal tahun 2011 ini saya semakin tidak memahami tugas dari masing-masing kementerian di lingkungan Kabinet Indonesia Bersatu jilid II yang Bapak pimpin. Selain persoalan koordinasi yang semakin tidak jelas, munculnya banyak Satuan Tugas selain (menurut saya) membebani anggaran negara, juga membuat rakyat seperti saya ini semakin bingung dan bertanya: mau dibawa ke mana sebenarnya negara ini? Baca selanjutnya…

Liberalisasi Sektor Pendidikan Sengsara Bagi Rakyat

Lima belas tahun lalu adalah masa yang sangat indah bagiku dalam bersekolah, dan mungkin juga bagi jutaan rakyat Indonesia lainnya. Usiaku yang hanya berselisih setahun dengan kakakku membawa keuntungan besar bagiku, pun demikian kakakku yang berselisih dua tahun dengan abangku. Baju seragamnya masih bisa kupakai jika sudah kesempitan, buku-bukunya 100% diwariskan kepadaku karena masih menjadi buku ajar wajib, biaya sekolah yang saat itu masih kuingat hanya Rp 100 perbulan tidak pernah menjadi kendala siapapun, para guru sungguh senang dan menikmati menjadi tenaga pengajar. Sekolah menjadi tempat idamanku karena membawa kesenangan dan keasikan tersendiri.

Kini kenangan lima belas tahun lalu itu hanya tinggal isapan jempol semata. Biaya pendidikan menjadi momok besar yang dihadapi setiap orang tua. Sekolah menjadi tantangan besar dalam urusan rumah tangga. Dimana-mana setiap orang tua mengomel tidak karuan atas permasalahan ini, tidak henti-hentinya mereka melontarkan kekesalannya terhadap sistem pendidikan yang ada, apalagi masyarakat menengah kebawah dan masyarakat pedalaman yang benar-benar tertampar atas perubahan sistem ini. Baca selanjutnya…

Akankah Kali Ini Propinsi Tapanuli Berdiri

Maret 23, 2010 9 komentar

Surat terbuka kepada DPRD SU, DPR RI, Presiden RI, dan seluruh rakyat Indonesia.

Angin segar baru saja dihembuskan ketua DPRD SU H Saleh Bangun melalui pernyataannya yang akan segera memparipurnakan Propinsi Tapanuli (Protap). Kabar gembira ini seketika disambut sorak sorai seluruh masyarakat Tapanuli baik yang bermukim di Tapanuli maupun di perantauan. Kumpulan marga, tokoh masyarakat, pengusaha, politikus, dan seluruh masyarakat Tapanuli lainnya kembali menghadirkan Protap sebagai diskusi utama dalam setiap kesempatan. Akankan kali ini Protap benar-benar bisa  berdiri?

Dengan nada optimis kali ini saya yakin 100%. Waktu telah membuktikan kepada seluruh masyarakat Indonesia bahwa pendirian Propinsi Tapanuli bukanlah karena kepentingan segelintir elit saja, atau malah mengejar kekuasaan semata, tetapi benar-benar murni aspirasi masyarakat Tapanuli. Jika ini benar-benar kepentingan elit mengapa setelah tokoh utamanya dipenjarakan justru keingin berdirinya Protap ini semakin menggelora. Panitia pembentukan Protap yang tersebar di seluruh penjuru wilayah Tapanuli dan di perantauan justru semakin mantap dan berkonsolidasi menghimpun dukungan dan masukan dari seluruh lapisan masyarakat. Baca selanjutnya…

Sampai Opung di Kampungku Juga Ngomong Century

Century menjadi kata yang sangat popular di Seluruh Indonesia saat ini, beragam kalangan mulai dari politikus, pejabat pemerintah, mahasiswa, supir, petani, hingga orang tua saya yang seorang parengge-rengge (pedagang pasar) pun beberapa kali menanyakan perkembangan kasus ini kepadaku. Yang paling lucu bagiku ialah ketika sebulan lalu kedua orangtuaku datang ke Jakarta melihat tulisan “century” di sebuah shop sign toko, langsung beranggapan bahwa itulah bank century, padahal itu adalah nama sebuah apotek waralaba. Belum lagi istriku yang bermarga Sianturi sering dikonotasikan dengan bank yang sedang kasus itu membuat kami harus merelakan marga itu dijadikan guyonan oleh teman-teman kami. Baca selanjutnya…

Next Step Need More Sacrifice

Kehidupan ini seperti bumi yang terus berputar, tidak pernah sedetikpun dalam kehidupan kita mengalami hal yang sama persis, karena hidup selalu berubah. Untuk  bisa survive di dunia ini kita  membutuhkan gerak dan langkah untuk menggapai  apa yang kita harapkan. Terkadang kita sering lupa bahwa semakin kita melangkah maju, kita justru semakin diperhadapkan oleh tantangan yang semakin berat, dan tantangan itu malah mengharuskan kita berkorban lebih banyak lagi. Baca selanjutnya…