Arsip

Archive for the ‘Batak’ Category

Trio Medan

September 2001 adalah awal aku menginjakkan kaki di Lampung. Aku di terima di Universitas Lampung (“Unila”). Unila adalah pilihan ketigaku dalam UMPTN, mau dibilang apa lagi aku hanya bisa lulus disini, meski aku berharap tahun depan bisa ikut UMPTN lagi tuk mencoba peruntungan di Universitas top di Pulau Jawa seperti pilihan pertama dan keduaku yang tak lulus itu. Baca selanjutnya…

Iklan

Membangun Tapanuli dari Sektor Pendidikan

Maret 28, 2011 3 komentar

Tak disangkal lagi bahwa Tapanuli adalah pemasok sarjana-sarjana cerdas di negeri ini. Dalam sebuah sumber pernah disebutkan bahwa Tapanuli Utara (ketika dulu belum dimekarkan) adalah kabupaten dengan rasio sarjana tertinggi di Indonesia dibanding dengan jumlah penduduknya. Sungguh luar biasa kan? Hal ini bisa terjadi karena memang falsafah masyarakat Batak mengatakan demikian: “anakkonki do hamoraon di au” (anakku adalah kekayaanku). Karena falsafah itulah makanya orangtua Batak bersusah payah menyekolahkan anaknya setinggi-tingginya agar keluarga mereka bisa lebih berharga lagi di kemudian hari. Apapun rela dilakukan meski harus mengorbankan dirinya sendiri. Baca selanjutnya…

SILSILAHKU

April 30, 2010 10 komentar

Ketika orang Batak telah menikah, saat itulah dia benar-benar “dianggap”. Dianggap disini dalam artian diakui posisinya dalam adat istiadat. Apalagi sebagai laki-laki seorang Batak harus meneruskan “tongkat estafet” keturunan kepada anak-anaknya kelak. Oleh karena itu setelah aku menikah, sebisa mungkin kupelajari berbagai macam hal mengenai adat-istiadat Batak, mulai dari tata cara acara adat, silsilah (tarombo), cerita-cerita leluhur, bahasa, dan lain sebagainya.

Sebagai penerus marga, kupikir hal ini adalah penting untuk dilakukan, jika tidak maka adat itu tidak akan lestari, apalagi dalam suku Batak, melestarikan adat adalah hal yang utama. Seminggu yang lalu aku baru saja bergabung dengan perkumpulan (punguan) marga Simbolon dari Tuan Miling-iling. Orangtuaku bilang  pomparan Tuan Miling-iling hampir dianggap punah karena keturunannya jarang sekali ditemukan, maka dari itu jika aku bertemu dengan salah satu dari mereka aku pasti akan senang sekali. Baca selanjutnya…

Sampai Opung di Kampungku Juga Ngomong Century

Century menjadi kata yang sangat popular di Seluruh Indonesia saat ini, beragam kalangan mulai dari politikus, pejabat pemerintah, mahasiswa, supir, petani, hingga orang tua saya yang seorang parengge-rengge (pedagang pasar) pun beberapa kali menanyakan perkembangan kasus ini kepadaku. Yang paling lucu bagiku ialah ketika sebulan lalu kedua orangtuaku datang ke Jakarta melihat tulisan “century” di sebuah shop sign toko, langsung beranggapan bahwa itulah bank century, padahal itu adalah nama sebuah apotek waralaba. Belum lagi istriku yang bermarga Sianturi sering dikonotasikan dengan bank yang sedang kasus itu membuat kami harus merelakan marga itu dijadikan guyonan oleh teman-teman kami. Baca selanjutnya…

Lae atau Appara

Maret 6, 2008 5 komentar

Tulisan ini tercetus karena komentar dari sobat ku Santrov Tamba, karena kesalahanku menyebut dia lae, padahal kami sama-sama parna. Baca selanjutnya…

Kategori:Adat, Batak, Budaya, Diary

Parhobas Jadi Raja

Maret 5, 2008 8 komentar

Aneh-aneh saja inang-inang parhobas di pesta pernikahan kakakku kemaren. Kalau kuperhatikan parhobas disini saja yang paling cerewet, galak, dan berkuasa pula lagi. Baca selanjutnya…

Kategori:Adat, Batak, Budaya, Diary

Ketika Para Simbolon Parhata Sada Bekumpul

Januari 3, 2008 2 komentar
di Kuburan oppung

Memang benar bahwa kami semua adalah parhata sada, keras kepala, namun bila kutelusuri lebih jauh lagi usaha mempertahankan pendapat itu ada baiknya dan ada benarnya demi kemajuan yang lebih baik, tidak mau dilecehkan, dan tidak mau dianggap remeh. Baca selanjutnya…