Arsip

Archive for the ‘Keluarga’ Category

Pelajaran Kepemimpinan

Pengalaman Memimpin Kepanitiaan di Gereja

Kali ini saya mau berbagi tentang pengalaman saya memimpin kepanitiaan di lembaga kerohanian. Pengalaman ini sangat berkesan sekali bagi saya sekaligus banyak pelajaran yang bisa diambil dalam membentuk model kepemimpinan saya.  Memimpin di lembaga kerohanian apakah itu persekutuan kampus, gereja, persekutuan lingkungan, dll sangat berbeda sekali dengan memimpin di lembaga lembaga sekuler seperti kantor, ormas, parpol, komunitas hobi, dll. Salah satu pembeda utamanya adalah posisi sang pemimpin yang akan saya jelaskan nanti. Semoga sharing saya ini bisa bermanfaat bagi para pembaca. Baca selanjutnya…

2013 Tanpa Resolusi

Tahun 2012 sudah berlalu, bahkan awal bulan di tahun 2013 pun sesaat lagi akan berganti, namun tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, aku belum juga menuliskan resolusiku seperti biasanya yang kulakukan setiap tahunnya. Ku coba-coba renungkan dan pikirkan, tetap tidak juga terlintas di benakku akan jadi apa aku di tahun 2013 ini, bukan karena tidak ada harapan atau langkah kongkret yang akan kulakukan, tetapi semua yang ingin kulakukan di tahun 2013 ini sudah pernah kupikirikan sebelumnya beberapa tahun yang lalu. Baca selanjutnya…

Dua Tahun dan Satu Bulan

Hari ini anakku Andrew tepat berusia dua tahun, sementara adiknya Tita, dua hari lagi akan berusia satu bulan. Tidak semeriah tahun lalu, tahun ini ultah Andrew hanya kami rayakan dengan meniup lilin saja di rumah, kemudian hari minggunya sedikit berbagi kebahagiaan dengan membagi goody bag dengan teman-teman sekolah minggu Andrew di Gereja. Meskipun begitu, kebahagiaan kami sebagai orangtuanya tidak berkurang sedikitpun, kekocakan tingkah polah Andrew menjadi benih-benih canda tawa bagi kami setiap harinya.

Tita, memang masih hanya bisa nangis dan tidur dan tentunya pipis serta pup. Cewek banget deh pokoknya, kalau nangis cengeng banget sampai tersedu-sedu. Kata orang tua sih sudah bau tangan, karena jika digendong pasti akan diam nangisnya, kalau tidak di gendong pasti akan semakin nangis. Huh, ada ada saja ya. Baca selanjutnya…

Kategori:Diary, Keluarga

Ia Terlahir Dengan Cesar

Januari 10, 2011 8 komentar

Sabtu, 20 November 2010, tak ubahnya seperti hari biasa lainnya, tidak ada yang istimewa yang kami alami hingga larut malam, atau bahkan rencana besar yang hendak kami kerjakan hari itu. Seperti malam minggu biasanya, kami memang memiliki kebiasaan jalan keluar untuk sekedar makan malam atau berkeliling-keliling kota hanya untuk melihat kemilau lampu kota, kami sepakat menyebut hal itu dengan istilah “pacaran lagi”. Baca selanjutnya…

Resolusi Tahun 2011

Desember 27, 2010 5 komentar

Tahun 2010 akan segera berakhir dengan banyak kesan dan perjalanan seru dalam kehidupanku, 2010 telah menjadi titik awal bagiku melangkahkan kaki dalam kehidupan rumah tangga, 2010 pula aku dipercaya oleh Sang Khalik menjadi seorang Ayah. 2010 telah memberikan bukti ukuran kedewasaanku sebagai seorang manusia. Baca selanjutnya…

Bagi Calon Suami dan Calon Ayah

Oktober 26, 2010 2 komentar

Tak terasa Sudah delapan bulan aku menyandang status sebagai suami, dan sebentar lagi status barupun segera bersanding, yaitu Ayah. Tak terasa olehku jika jam kehidupan ini begitu kencang berputar, sampai-sampai Aku lupa jika sebentar lagi rumahku akan ramai dengan tangisan bayi kami. Nah dalah tulisan singkat ini, saya mau berbagi cerita mengenai keluh kesah bagi calon suami atau suami baru yang sekaligus juga sebagai calon Ayah. Baca selanjutnya…

Aku Menangis untuk Adikku Enam Kali

Maret 20, 2010 1 komentar

Aku dilahirkan di sebuah dusun pegunungan yang sangat terpencil. Hari demi hari, orang tuaku membajak tanah kering kuning, dan punggung mereka menghadap ke langit. Aku mempunyai seorang adik, tiga tahun lebih muda dariku.

Suatu ketika, untuk membeli sebuah sapu tangan yang mana semua gadis di sekelilingku kelihatannya membawanya, Aku mencuri lima puluh sen dari laci ayahku. Ayah segera menyadarinya. Beliau membuat adikku dan aku berlutut di depan tembok, dengan sebuah tongkat bambu di tangannya. “Siapa yang mencuri uang itu?” Beliau bertanya. Aku terpaku, terlalu takut untuk berbicara. Ayah tidak mendengar siapa pun mengaku, jadi Beliau mengatakan, “Baiklah, kalau begitu, kalian berdua layak dipukul!” Dia mengangkat tongkat bambu itu tingi-tinggi. Tiba-tiba, adikku mencengkeram tangannya dan berkata, “Ayah, aku yang melakukannya!” Baca selanjutnya…